Selasa, 09 Juni 2015

TAUHID

Ketika kita membahas tentang tauhid, maka kita juga harus mengerti tentang aqidah. Aqidah secara bahasa berarti kepercayan, pengikat, janji setia. Kepercayaan atau keyakinan yang dimaksud di sini adalah keyakinan kita sebagai hamba kepada Allah, yang darinya muncul suatu janji setia, janji yang membuat kita sebagai hamba menjadi terikat kepada Allah, Sang Pencipta. Sedangkan menurut pandangan tokoh, aqidah diartikan sebagai:
•    Hasan Al-Bana, aqidah adalah beberapa perkara yang wajib diyakini kebenarannya oleh hati, mendatangkan ketentraman jiwa yang juga menjadi keyakinan yang tidak tercampur sedikitpun dengan keragu-raguan.
•    Abu Bakar Jabir Al-Jazain, aqidah adalah sejumlah kebenaran yang dapat diterima secara umum oleh manusia berdasarkan akal, wahyu dan fitrah. Kebenaran itu dipatrikan atau diikat luar biasa dalam hati manusia, diyakini keshahihan dan keberadaannya secara pasti dan ditolak segala sesuatu yang bertentangan dengan kebenaran itu.
Istilah-istilah lain dari aqidah:
    Tauhid, yang berarti mengesakan Tuhan, menjadikan Tuhan sebagai zat Yang Maha Esa dan segala-galanya.
    Ushuluddin, yang membahas tentang dasar-dasar kepercayaan, yakni keimanan terhadap Allah.
    Ilmu kalam, yang membahas tentang Kalamullah (Al-Qur’an).
    Fiqh akbar, yang berbicara tentang hukum dengan fondasi aqidah.
Selain aqidah, di sini juga dibahas mengenai iman. Di mana iman merupakan buah dari aqidah. Ali bin Abi Thalib mendeskripsikan iman ke dalam tiga hal, yakni diyakini dengan sepenuh hati, diucapkan dengan lisan serta diamalkan melalui perbuatan.
Apabila kita kembali ke materi awal, yakni tentang tauhid. Maka penting bagi kita untuk mengetahui apa saja yang menjadi ruang lingkup dari tauhid itu sendiri. Di sini, ruang lingkup tauhid meliputi 4 hal, yakni:
1.    الهية (Ketuhanan)
Ilahiyah sendiri terdiri dari 4 aspek yang harus dipelajari, yakni:
    ذاته (Dzat Allah)
    اسمائه (Nama-nama Allah)
    صفاته (Sifat-sifat Allah)
    افعاله (Perbuatan-perbuatan Allah)
Selain keempat aspek tersebut, yang perlu kita ketahui dalam Ilahiyah (Ketuhanan) adalah tentang tauhid apa saja yang termasuk dalam Ilahiyah. Di sini, ada 4 macam tauhid yang termasuk ke dalam Ilahiyah, yakni:
a.    الهيه (Tauhid Uluhiyah), yang berasal dari kata اله. Uluhiyah bermakna kita harus mengikuti segala perintah-Nya.
b.    ربوبيه (Tauhid Rububiyah), dari kata ربٌ, berarti yang memelihara.
c.    ملكيه (Tauhid Mulkiyah), dari kata ملك, berarti yang menguasai.
d.    عمليه (Tauhid ‘Amaliyah), yakni kesatuan perbuatan yang ditujukan hanya kepada Allah SWT, yang merupakan tampilan dari ketiga tauhid sebelumnya.

2.     النٌبوة(Kenabian)
Aspek yang harus dipelajari dalam annubuwah, antara lain:
    رسول (Kerasulan), yang dipelajari di sini, yakni visi misi dari nabi atau rasul. Perbedaan antara nabi dan rasul sendiri, yaitu:
o    Nabi, merupakan utusan Alllah, menerima wahyu dari Allah dan wajib disampaikan pada umatnya pada zaman itu.
o    Rasul, merupakan utusan Allah, menerima wahu dari Allah dan wajib disampaikan pada seluruh umat di dunia sampai sekarang.
    اسماء (Nama-nama nabi)
    صفاته (Sifat-sifat nabi)
    افعاله (Perbuatan/perilaku nabi)

3.    الرٌوحانية (Yang bersifat ruh)
Yang bersifat ruh, yakni:
    ملءكة (Malaikat)
    الجن (Jin)
    الشيطان (Syaitan)
    ابليس (Iblis)

4.    السٌمعية
السٌمعية, yakni sesuatu yang diperoleh melalui pendengaran, contohnya: surga, neraka dan hari kiamat.
Berbicara tentang surga, pastinya kita semua ingin menjadi penghuni surga ketika di akhirat nanti. Ada satu cara yang dapat mewujudkan keinginan kita tersebut, yakni dengan ilmu. Karena ilmu adalah suatu pengetahuan hidup yang membuat kita mengenali jalan tetrdekat menuju surga.
    Sebelum ke pembahasan yang lebih lanjut, maka ada baiknya apabila kita lebih mengetahui pembagian ilmu berikut ini.
علم (ilmu), dapat dibagi menjadi dua, yakni:
a.    ضروري, ilmu yang tidak perlu bukti dan dapat dilihat oleh panca indera.
b.    نظري, ilmu yang perlu bukti. Namun di sini terdapat pengecualian, yakni بديهية, tidak perlu bukti (karena sudah terbiasa).
Kembali pada pembahsan sebelumnya, yakni mengenai ilmu yang berhubungan dengan surga. Di sini, ilmu merupakan suatu kekuatan yang membuat kita mampu mempertemukan antara benar (sesuai  aturan), baik (manfaat untuk semua) dan mulia (orientasi akhirat).
Untuk bisa sampai ke surga, kita harus menjadi orang yang benar, baik dan mulia, dengan kriteria:
•    Benar, apabila akal kita sudah lurus (عقل مستقيم). Itu dapat diperoleh dari   الفقه
•    Baik, apabila hati kita sehat (قلب سليم). Itu dapat diperoleh dari الئخلاق
•    Mulia, apabila jiwa kita telah tenang (نفس مطمئنٌة). Itu dapat diperoleh dari التٌوحيد
Di sini, ketiga hal tersebut saling berhubungan. Yakni, jiwa tidak akan tenang jika hati tidak sehat. Hati tidak akan sehat jika akal tidak lurus. Akal lurus dengan ilmu fiqh, atau ilmu yang membuat kita mengetahui hukum dari semua perbuatan kita. Hati sehat dengan ilmu akhlak, atau ilmu yang membuat kita mampu menjadikan apapun sebagai kebaikan. Dan jiwa tenang dengan ilmu tauhid.
Selain pembahasan di atas, dalam tauhid juga dipelajari tentang konsep ikhlas, yakni:
    ولله عاقبةالأمور (hanya kepada Allah kita kembalikan segala masalah)
    شريعةالله (sesuai dengan syariat)
    نية الله تعالى (niat hanya kepada Allah)
Apabila kita dapat menerapkan ketiga konsep ikhlas tersebut dalam kehidupan sehari-hari, maka kita termasuk orang yang mulia.

TUGAS PSIKOLOSI PENDIDIKAN AUTISME

BAB 2
PEMBAHASAN

A.    AUTISME
1.    Pengertian
Istilah autisme berasala dari kata autos yang berarti ‘diri sendiri’ dan –isme yang berarti aliran. Autisme berarti paham yang tertarik pada dunianya sendiri. Ada yang menyebutkan bahwa autisme adalah gangguan perkembangan yang  mencakup bidang komunikasi, interaksi, dan perilaku. Gejalanya mulai tampak pada anak sebelum usia tiga tahun.
Menurut Dr. Hardian, gangguan autistik ditandai tiga gejala utama yaitu gangguan interaksi sosial, gangguan komunikasi dan perilaku yang stereotipik. Diantara tiga hal tersebut, yang paling penting untuk diperbaiki terlebih dahulu interkasi sosial. Apabila gangguan interaksi membaik, sering kali gangguan  komunikasi dan perilaku akan membaik secara otomatis.
Sementara itu, menurut Mudjito, autis ialaha anak yang mengalami gangguan berkomunikasi dan berinteraksi sosial serta mengalami gangguan sensoris, pola bermain, dan emosi. Penyebabnya karena antar jaringan dan fungsi otak tidak singkron. Ada yang maju pesat sementara yang lainya biasa- biasa saja. Survei menunjukan, anak-anak autis lahir dari kalangan ibi-ibu menengah keatas. Ketika dikandung asupan gizi ke ibunya tidak seimbang.

2.    Karakteristik
Anak yang autis sedikitnya memiliki enam karakter, antara lain sebagai berikut.
a.    Masalah di Bidang Komuniksi
•    Kata yang digunakan kadang tidak sesuai dengan artinya.
•    Mengoceh tanpa arti secar berulang-ulang.
•    Bicara tidak pakai unntuk alat komunikasi.
•    Senag meniru kata-kata atau lagu-lagu tanpa mengetahui artinya.
•    Senang menarik-narik tangan orang lain untuk melakukan apa yand diinginkan.
b.    Masalah di Bidang Interaksi
•    Suka menyendiri.
•    Menghindar kontak mata.
•    Tidak tertarik untuk bermain bersama.
•    Menolak atau menjauh bila diajak bermain.



c.    Masalah di Bidang Sensoris
•    Tidak peka terhadap sentuhan.
•    Tidak peka terhadap rasa sakit
•    Langsung menutup telinga bila mendengar suara keras.
•    Senang  mencium/menjilat benda-benda di sekitarnya.
d.     Masalah di Bidang Pola Bermain
•    Tidak bermain seperti anak lain pada umumnya.
•    Tidak bermain sesuai fungsi mainan.
•    Sangat lekat dengan benda-benda tertentu.
•    Senang terhadap benda-benda tertentu.
•    Tidak memilki kreativitas dan imajinasi.
•    Tidak suka bermain dangan teman sebayanya.
e.    Masalah di Bidang Perilaku
•    Dapat berperilaku berlebihan atau terlalu aktif.
•    Melakukan gerakan yang berulang-ulang.
•    Merangsang sendiri.
•    Duduk bengong tatpan kosong.
f.    Masalah di Bidang Emosi
•    Sering marah, menangis, tertawa tanpa alasan.
•    Kadang-kadang agresif dan merusak.
•    Kadang-kadang menyakiti diri sendiri.
•    Dapat mengamuk tak terkendali.
•    Tidak memiliki empati.

3.    Indikasi dan Penyebab Autis
Autisme atau disebut dengan autistic Spectrum Disorder hingga kini belu diketahui penyebabnya. Meski demikian, saat ini sudah ada beberapa langkah tepat untuk penderita auri agar dapat memiliki kemampuan bersosialisasi, bertingkah laku, dan berbicara.
Penyebab autis sangat kompleks, anatara lain tidak terlepas dari faktor genetikadan lingkungan sosial. Para ilmuawan yang bertemu pada “autism summit” di California, Amerika Serikat (AS), sepakat bahwa gejal autis disebabkan oleh interaksi sejumlah gen dengan faktor- faktor lingkungan yang belum teridentifikasi.
Mengutip International Herald (10/2), Mudjito menguraikan, ditemukan sedikitmya dua indikasi autisme pada bayi yang baru lahir. Pertama, zat pada otak yang berisi serat-serat penghubung neuron di wilayah terpisah dalam otak berkembang hingga 9 bulan, kemudian berhenti. Pada usia 2 tahun, zat putih ini ditemui secara berlebihan di lobes bagian depan, cerebellum, dan wilayah asosiasi di mana terjadi pemrosesan tingkat tinggi.
Kedua, lingkaran kepala bayi baru lahir lebih kecil daripada rata-rata lingkaran bayi baru lahir pada umumnya. Pada usia 1-2 bulan, tiba-tiba otaknya tumbuh dengan pesat. Hal serupa terjadi pada usia 6 bulan 2 tahun. Pertumbuhan ini lalu menurun pada usia 2-4 tahun. Ukuran otak anak autis berusia 5 tahun lebih kurang sama ukurang otak anak normal berusia 13 tahun.
Beberapa autis lain juga mengungkapkan, autisme juga dapat disebabkan oleh virus seperti rubella, toxo, herpes, jamur, nutrsisi buruk, perdarahan, karacunan makanan saat hamil. Hal ini menghambat pertumbuhan sel otak pada bayi yang dikandung terutam fungsi pemahamn, komunikasi, dan interaksi.
Terakait dengan nutrisi, Mudjito menunjuk pola hidup pada masyarakat kota turut mendukung potensi lahirnya anak autis. Misalnya, makanan dan minuman tanpa pengendalian mutu, termasuk makanan cepat saji. Bisa karena sayur dan buah yang dikonsumsi mengandung zat pestisida.

4.    Langkah Penanganan
Autisme masih menjadi misteri yang belum terpecahkan sepeuhnya oleh kedokteran. Para pakar belum sepakat soal penyebab penyakit ini. Namun, sebagian pakar setuju bahwa sindrom autis terjadi karena kelainan pada otak.
Hingga kini, bisa tidaknya autis disembuhkan (total) juga masih menjadi pertentangan dalam dunia kedokteran dan psikologi. Namun, orang tua hendaknya harus mencoba berbagaiterapi. Setidaknya dengan teapi, keadaan si anak lebih baik.
Saat ini, ada berbagia terapi autis, baik yang diakui dunian medis maupun yang masih berdasarkan disiplin ilmu tradisional. Diharapkan denag mencoba teapi ini anak   yang mengalami autis bisa berkembang lebih baik. Macam-macam terapi autis diantaranya sebagai berikut.
a.    Metode ABA
Salah satu metode intervensi dini yang banyak diterapkan di indonesia modifikasi perilaku atau lebih dikenal sebagi metode Applied Behavioral Analysis (ABA). Kelebihan metode ini dibanding metode lain adalah sifatnya yang sangat terstruktur, kurikulumnya jelas, dan keberhasilanya bisa dinilai secara objektif. Penatalaksanaannya dialkukan 4-8 jam sehari.
Melalui metode ini, anak dilatih melakukan berbagia macam ketrampilan yang berguna bagi hidup bermasyarakat, misalnya berkomunikasi, berinteraksi, berbicara, berbahasa. Namun yang pertama yang dilakukan adalah latihan kepatuhan. Hal ini sangat penting agar mereka dapat mengubah perilaku seenaknya sendiri (misalnya memaksakan kehendak) menjadi perilaku lazim dan diterima di masyrakat.
b.    Masuk Kelompok Khusus
Biasanya setelah 1-2 tahun menjalani intervensidini dengan baik, si anak siap masuk ke kelompok kecil. Bahkan ada yang siap masuk ke kelompok bermain. Mereka yang belum siap masuk ke kelompok bermain, bisa diikutsertakan ke kelompok khusus. Di kelompok ini mereka mendapat kurikulum yang khusus dirancang secara secar individual. Disini anak akan mendapatkan penangangan terpadu, yang melibatkan pelbagai tenaga ahli, seperti psikiater, psikologi, terapi wicara, terapis wicara, terapis okupasi, dan ortopedagog.
Anak dengan kecerdasan normal yang sudah siap masuk ke sekolah umum pun masih bisa mendapatkan penanganan khusus bila diperlukan. Disekolah umum, peran guru sangat penting. Namun dalam kenyataan, banyak sekolah yang menolak menerima murid penyandang autisme.
c.    Pemberian Obat
Tidak ada satu pun obat yang dibuat khusus untuk menyembuhkan autisme. Lagi pulaobat-obatan itu dipakai untuk menyembuhkan gejala. Namun, bila ditemukan terdapat gangguan pada sumsum saraf pusat, pengobatan bisa lebih terarah. Beberapa jenis obat bahkan mempunyai efek yang sangat bagus untuk menimbulkan respon anak terhadap dunia luar. Dengan pemakaian obat intervensi dini maupun penatalaksanaan lain akan lebih cepat berhasil. Bila keberhasilan stabil, obat bisa dihentikan.
Obat-obatan menjadi alternatif lain di dalam menyembuhkan anak autis. Hanya saja kecenderungannya obat atau suplemen yang ia dapatkan lebih bersiftat kimiawi dalam jangka panjang. Padahal pembeian obat kimiawi dalam jangka panjang akan memberika efek samping bagi anak lebih baik menghindari obat kimia dan hanya menggunakan suplemen herbal.
Terlepas dari jenis-jeni obat atu suplemen di atas, bahwa anak autis harus terhindar dari bahan makanan yang mengandung gluten, kasein, dan zat tambahan makanan seperti MSG, pewarna makanan, dan gula sintetis aspartam.
d.    Penggunaan Alat Bantu
Banyak anak autisme belajar lebih baik dengan menggunakan penglihatannya. Ciri anak dengan kekuatan visual adalah senang main puzzle, bentuk-bentuk, sukan nonto video, TV terutama film kartun, menyukai huruf, angka, dan kadang-kadang dapat membaca tanpa diajari. Media gambar dianggap efektif karena berbicara memerlukan waktu yang singkat (milisecond), jadi terlalu cepat untuk anak dengan gangguan komunikasi.

B.    KETERLAMBATAN UMUM DALAM FUNGSI KOGNITIF DAN SOSIAL
Beberapa siswa memiliki kebutuhan pendidikan khusus sesuai dengan perkembangan pribadi dan sosial mereka. Banyak siswa dengan ketidakmampuan kognitif, sosial ataupun fisik memiliki self-esteem yang lebih rendah dibandingkan teman-teman sekelas mereka. Siswa-siswa dengan keterbelakangan mental umumnya memilki pemahaman yang sangat terbatas mengenai cara berperilaku yang tepat dalam situasi-situasi sosial. Para siswa yang memiliki gangguan emosional ataupun perilaku mungkin juga memiliki keterbatasan dalam mempertimbangkan perspektif orang lain dan dalam kemampuan memecahkan masalah sosial, akibatnya mereka hanya memiliki sedikit teman (itupun jika ada). Selain itu, siswa dengan ketidakmampuan yang kompleks, terutama yang mengidap ADHD, gangguan spektrum autis, gangguan emosional dan perilaku, atau retardasi mental, bisa jadi mengalami kesulitan menarik kesimpulan yang akurat mengenai perilaku serta bahasa tubuh orang lain.

1.    Karakteristik
Siswa yang mengalami keteterlambatan umum dalam fungsi kognitif dan sosial memiliki beberapa karakteristik yang dapat diamati, yakni umumnya memiliki self-esteem atau harga diri yang rendah, tingkat keterampilan sosialnya seperti lazimnya dimiliki anak yang lebih muda darinya, kesulitan mengidentifikasi dan menafsirkan isyarat-isyarat sosial, serta ide-ide mengenai yang benar dan yang salah yang acapkali konkret dan prakonvensional.
a.    Harga Diri
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, harga diri berarti kesadaran akan berapa besar nilai yang diberikan kepada diri sendiri. Penghargaan diri juga kadang dinamakan martabat diri atau gambaran diri. Coopersmith membagi taraf harga diri dalam tiga kategori, yaitu taraf harga diri tinggi, taraf harga diri sedang dan taraf harga diri rendah. Dalam kaitannya dengan keterlambatan umum dalam fungsi kognitif dan sosial, harga diri yang rendah adalah salah satu karakteristiknya.
Individu yang mempunyai taraf harga diri rendah menurut Coopersmith menunjukkan sifat-sifat keputusasaan, selalu membayangkan kegagalan, selalu dihinggapi depresi dan selalu merasa tidak menarik dan merasa terisolir dalam pergaulannya. Kemauan untuk menghadapi kekurangan dan kelemahan sangat lemah, takut mengatur terhadap orang yang berbuat kesalahan, sangat peka terhadap kritik serta tidak merasa bergaul dengan orang lain.
Menurut Clemes, karakteristik harga diri rendah memiliki ciri-ciri sebagai berikut:
-    Meremehkan bakatnya sendiri. Individu akan mengatakan,” Saya tidak bisa melakukan ini atau itu.”
-    Merasa bahwa orang lain tidak menghargainya. Individu akan merasa tidak yakin atau selalu bersikap negatif terhadap dukungan dan kasih sayang orang tua dan temannya.
-    Merasa tidak berdaya. Kurang percaya diri atau bahkan ketidakberdayaan akan tampak dalam sikap dan tindakan anak remaja. Individu tidak mampu berusaha keras menghadapi tantangan atau masalah.
-    Mudah dipengaruhi orang lain. Gagasan dan  perlakuannya kerap berubah mengikuti orang yang banyak bergaul dengannya, seringkali individu dimanipulasi orang yang berkepribadian kuat.
-    Menunjukkan deretan emosi dan perasaan yang sempit.
-    Remaja dengan harga diri rendah ini sering menunjukkan beberapa emosi yang khas seperti tidak sopan, keras kepala, histeria.
-    Menghindari situasi yang menimbulkan kecemasan.
-    Menjadi defensif dan mudah frustasi. Individu akan mudah tersinggung, tidak mampu menerima kritik atau perintah yang tidak diduga dan selalu mempunyai dalih mengapa individu tidak dapat melaksanakannya.
-    Menyalahkan orang lain karena kelemahan sendiri. Individu kerap kali menyalahkan orang lain atau keadaan yang tidak menguntungkan sebagai penyebab kesulitannya.
Orang yang memandang rendah dirinya sendiri kurang memiliki konsep diri yang jelas, merasa rendah diri, sering memilih tujuan yang kurang realistis atau bahkkan tidak memiliki tujuan yang pasti, cenderung pesimis dalam menghadapi masa depan, mengingat masa lalu secara negatif, berkubang dalam perasaan negatif, punya reaksi emosional dan behavioral yang lebih buruk dalam merespon tanggapan negatif dari orang lain, kurang mampu memunculkan feedback positif terhadap dirinya sendiri, lebih memerhatikan dampak sosial mereka terhadap orang lain, dan lebih mudah terkena depresi atau berpikir terlalu mendalam saat mereka menghadapi stress atau kekalahan.
Butler, Hokanson, & Flynn berpendapat bahwa harga diri yang rendah akan berpengaruh negatif pada individu yang bersangkutan dan mengakibatkan individu tersebut akan menjadi stress dan depresi. Selain itu, menurut Coopersmith orang yang memiliki harga diri rendah senantiasa mudah mengalami kecemasan, tidak bahagia, selalu putus asa, tidak percaya diri. Lebih dari itu orang yang memiliki penghargaan diri rendah mudah dihinggapi rasa takut, seperti perasaan tidak diterima dan selalu merasa dibenci, selalu merasa gagal, terlalu takut menghadapi kelemahan dan kekurangan dirinya, sangat peka terhadap kritik dan mudah tersinggung, serta cenderung menarik diri dalam pergaulannya.
b.    Keterampilan Sosial
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, keterampilan berarti kecakapan untuk menyelesaikan tugas. Jadi, keterampilan sosial adalah kecakapan untuk menyelesaikan tugas yang berhubungan dengan sosial atau kemasyarakatan. Atau bisa juga diartikan sebagai kemampuan individu untuk berkomunikasi efektif dengan orang lain baik secara verbal maupun nonverbal sesuai dengan situasi dan kondisi yang ada pada saat itu, di mana keterampilan ini merupakan perilaku yang dipelajari. Keterampilan sosial membawa remaja untuk lebih berani berbicara, mengungkapkan setiap perasaan atau permasalahan yang dihadapi dan sekaligus menemukan penyelesaian yang adaptif, sehingga mereka tidak mencari pelarian ke hal-hal lain yang justru dapat merugikan diri sendiri maupun orang lain.




Gresham dan Reschly mengidentifikasikan keterampilan sosial dengan beberapa ciri, antara lain:
•    Perilaku Interpersonal
Perilaku interpersonal adalah perilaku yang menyangkut keterampilan yang digunakan selama melakukan interaksi sosial yang disebut dengan keterampilan menjalin persahabatan.
•    Perilaku yang Berhubungan dengan Diri Sendiri
Perilaku ini merupakan ciri dari seorang yang dapat mengatur dirinya sendiri dalam situasi sosial, seperti keterampilan menghadapi stress, memahami perasaan orang lain, mengontrol kemarahan dan sebagainya.
•    Perilaku yang Berhubungan dengan Kesuksesan Akademis
Perilaku ini berhubungan dengan hal-hal yang mendukung prestasi belajar di sekolah, seperti mendengarkan guru, mengerjakan pekerjaan sekolah dengan baik, dan mengikuti aturan-aturan yang berlaku di sekolah.
•    Penerimaan Teman Sebaya
Hal ini didasarkan bahwa individu yang mempunyai keterampilan sosial yang rendah akan cenderung ditolak oleh teman-temannya, karena mereka tidak dapat bergaul dengan baik. Beberapa bentuk perilaku yang dimaksud adalah memberi dan menerima informasi, dapat menangkap dengan tepat emosi orang lain, dan sebagainya.
•    Keterampilan Berkomunikasi
Keterampilan ini sangat diperlukan untuk menjalin hubungan sosial yang baik, berupa pemberian umpan balik dan perhatian terhadap lawan bicara, dan menjadi pendengar yang responsif.

Dari penjelasan tersebut kita dapat mengambil kesimpulan bahwa ciri-ciri individu yang memiliki keterampilan sosial adalah orang yang berani berbicara, memberi pertimbangan yang mendalam, memberikan respon yang lebih cepat, memberikan jawaban secara lengkap, mengutarakan bukti-bukti yang dapat meyakinkan orang lain, tidak mudah menyerah, menuntut hubungan timbal balik,
serta lebih terbuka dalam mengekspresikan dirinya.
Dalam kaitannya dengan keterlambatan umum dalam fungsi kognitif dan sosial, keterampilan sosial yang “terlambat” adalah salah satu karakteristiknya. Terlambat di sini berarti, tingkat keterampilan sosial yang ia miliki saat itu, seharusnya sudah ia miliki sebelumnya, atau dengan kata lain tingkat keterampilan sosialnya saat itu setara dengan individu lain yang apabila dilihat dari segi usia terpaut jauh dengannya, yakni lebih muda darinya.



c.    Isyarat Sosial
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, isyarat adalah segala sesuatu yang dipakai sebagai tanda atau alamat. Jadi, isyarat sosial adalah sesuatu yang dipakai sebagai tanda dalam lingkup sosial. Dalam kaitannya dengan keterlambatan umum dalam fungsi kognitif dan sosial, anak dikatakan mengalami keterlambatan apabila ia mengalami kesulitan dalam mengidentifikasi dan menafsirkan isyarat-isyarat sosial.

Siswa yang secara khusus mengalami kesulitan yang berat dapat diidentifikasi mengidap keterbelakangan mental (mental retardation), yaitu hambatan yang ditandai dengan inteligensi umum di bawah rata-rata dan kurangnya perilaku adaptif. Di mana perilaku adaptif sendiri bermakna perilaku yang berkaitan dengan keterampilan hidup sehari-hari dan perilaku yang sesuai dalam situasi sosial, digunakan sebagai kriteria untuk mengidentifikasi siswa yang mengalami keterbelakangan mental.
Siswa yang mengalami keterbelangan mental memperlihatkan keterlambatkan yang signifikan di sebagian besar aspek perkembangan kognitif dan sosialnya. Secara lebih khusus, mereka memperlihatkan karakteristk-karakteristik berikut ini:
•    Inteligensi umum berada di bawah rata-rata. Siswa seperti ini memiliki skor tes inteligensi yang cukup rendah, selain itu siswa-siswa ini belajar secara lambat dan secara konsisten menunjukkan prestasi yang rendah di semua mata pelajaran.
•    Perilaku adaptif lemah. Siswa yang mengalami keterbelakangan mental berperilaku seperti anak-anak. Kurangnya perilaku adaptif ini mencakup keterbatasan dalam inteligensi praktis, yakni mengelola aktivitas-aktivitas biasa sehari-hari, serta inteligensi sosial, yakni bertingkahlaku secara tepat dalam berbagai situasi sosial.

Keterbelakangan mental seringkali disebabkan oleh kondisi genetik. Sebagai contoh, sebagian besar anak-anak yang mengalami down syndrome mengalami keterlambatan dalam perkembangan kognitif. Dalam kasus-kasus lain, penyebabnya adalah faktor-faktor biologis tetapi tidak ditrunkan (noninherited), seperti kekurangan gizi atau konsumsi alkohol secara berlebihan selama kehamilan atau kekurangan oksigen dalam proses kelahiran yang sulit. Selain itu, dalam situasi-situasi lain, faktor lingkungan, seperti diabaikan oleh orang tua, lingkungan rumah yang sangat miskin dan kurang memberikan stimulasi, dapat menjadi penyebab keterbelakangan mental.
Di samping itu, beberapa siswa yang mengalami keterbelangan mental yang mengikuti kelas pendidikan, cenderung memperlihatkan beberapa karakterisik berikut ini:
•    Hasrat yang tulus untuk menjadi bagian dari sekolah dan merasa cocok berada di sekolah
•    Kurangnya pengetahuan umum mengenai dunia
•    Keterampilan membaca dan berbahasa yang buruk
•    Kurang atau bahkan sama sekali tidak memiliki strategi-strategi belajar dan strategi memori yang efektif
•    Kesulitan melengkapi detil-detil ketika instruksi yang diberikan tidak lengkap atau ambigu
•    Kesulitan memahami gagasan abstrak
•    Kesulitan menggeneralisasi sesuatu yang dipelajari dalam suatu situasi ke situasi baru
•    Keterampilan motorik yang rendah
•    Perilaku bermain dan keterampilan interpesonal yang tidak matang

2.    Strategi Pengajaran
Ada beberapa strategi yang berguna untuk siswa-siswa yang mengalami keterbelakangan mental, antara lain:
    Memberikan instruksi secara perlahan-lahan untuk memastikan mereka dapat mengikuti materi yang disampaikan. Ketika sedang menangani siswa yang mengalami keterbelangan mental, peralihan ke topik atau tugas baru seharusnya dilakukan secara perlahan-lahan dan jangan bosan membuat pengulangan-pengulangan sehingga memberi mereka kesempatan untuk menguasai materi yang diajarkan. Siswa yang mengalami keterbelakangan mental biasanya memiliki sejarah kegagalan yang panjang dalam mengerjakan tugas-tugas akademik. Karena itu, mereka membutuhkan pengalaman berhasil yang sering untuk belajar bahwa dengan bekerja keras, mereka dapat berhasil di sekolah.
    Menjelaskan tugas-tugas secara konkret, spesifik dan lengkap. Apabila kita hanya mengatakan kepada seorang siswa yang mengalami keterbelakangan mental “letakkan lembaran absen ini di kantor kepala sekolah”, ada kemungkinan siswa tersebut tidak kembali lagi ke kelas setelah melaksanakan perintah itu. Karena itu, sebaiknya mengatakan, “Budi, pergilah ke kantor kepala sekolah, berikan lembaran absen ini kepada Bu Eva, lalu kembalilah ke sini”.
    Menggunakan scaffolding yang memadai untuk mendorong perhatian dan proses-proses kognitif efektif yang lain. Karena siswa yang mengalami keterbelakangan mental kerap kurang menyadari cara terbaik untuk belajar dan mengingat informasi baru, kita perlu memberikan bimbingan yang eksplisit mengenai apa yang sebaiknya mereka lakukan (secara mental) ketika belajar. Sebagai contoh, kita dapat menggunakan frase seperti “lihatlah” atau “dengarkan” untuk membantu mereka memusatkan perhatian. Kita juga dapat mengajari mereka beberapa strategi mengingat yang sederhana dan konkret, seperti mengulang-ulang sendiri instruksi yang telah didapatkan. Kita juga dapat memeberikan pedoman belajar yang sederhana yang dapat memberikan petunjuk spesifik mengenai hal-hal yang harus diperhatikan saat belajar.
    Memasukkan keterampilan kejuruan dan keterampilan hidup yang umum ke dalam kurikulum. Bagi sebagian besar siswa yang mengalami keterbelakangan mental, salah satu bagian penting dari kurikulum sekolah menengah atas adalah melatih keterampilan hidup yang umum dan keterampilan kerja. Pelatihan-pelatihan semacam itu paling mungkin efektif apabila dilakukan dalam setting yang realistis, yang semirip mungkin dengan setting yang akan mereka alami setelah lulus nanti.



ASSIGNMENT OF SCIENCE EDUCATION THE DIFFERENT OF SCIENCE EDUCATION,THEORY EDUCATION AND DRAFT EDUCATION


ASSIGNMENT OF SCIENCE EDUCATION
THE DIFFERENT OF SCIENCE EDUCATION,THEORY EDUCATION AND DRAFT EDUCATION
This paper created for fill the assignment of Science Education
The adviser: Prof. Dr. Sutrisno, M. Ag.


Created By :
Enggar  Sari Wening
14410061
PAI C / 07


ISLAMIC EDUCATION
FACULTY OF ISLAMIC EDUCATION
STATE ISLAMIC UNIVERSITY SUNAN KALIJAGA
YOGYAKARTA
2015

A.    INTRODUCTION
Before we talking about science education, theory education and draft education, will be more good if we know about the meaning of education. In the eduation world, we have to know about paedagogie and paedagogiek. Firstly, they look so similar, but they are differerent. Paedagogie is education, but paedagogiek is science education. The different of them is paedagogie more foccus in the action, that is learn and teaching activity. While, paedagogiek is more foccus for thinking about education. Thinking about system education, purpose education, materials education, medium and infrastructure education, so here the foccus is about theory. Paedagogie and paedagogiek must walk together, matching and correct each other. But, in the world of education, word “paedagogie” more famous and often used by people.
    According to etimology, paedagogie come from Yunani language, from word “pais” meaning child, and “again” meaning lead. So, paedagogie is lead the child. While, according to the opinion of some thinkers, such:
•    John Dewey, he said, “Education is process of making the fundementil skill according to intellectual and emotional to the direction of world and peer human.”
•    Langeveld, he said, “Educate is influence the child in the lead effort so they be adult. Lead effort is a aware effort and happen between the adult and the child.”
•    Ki Hajar Dewantara, he said, “Educate is guide every natural power of the child so they as a human and member society can get the highest happiness.”
•    Jean Piaget, he said, “Education for most people, means trying to lead the child to resemble the typical adult of his society (whereas) for me, education means making creators, even if there aren’t many of them, even if one’s creations are limited by comparison with those of others.”
•    GBHN,  “Education is aware effort to develop personality and skill inside and outside the school and continue of the same age.
•    UU Nb. 20 / 2003 about National Education System, “Education is aware effort to create a learning atmosphere and process of learning so the students actively develop his skills to get a spiritual power, control self, personality, intelligence, good character and skills that useful for his self, society, nation and state.

B.    SCIENCE EDUCATION
Science education is a science that talk about some problem connected with education problem or science that talk about education and theory education. Word “education” in English come from Latin language, “edure” meaning take something, maybe take the science into the someone’s brain. In Arabic, people usually call word education with word “ta’lim” or “tarbiyah”.
    In the same manner as above, if science education talk about some problem especially eduation problem, so here we will discuss about it. In general, eduation problem clssified into 2 side:
1.    Eduction Explanation Side
a.    From etimologys side, education wellborn from Yunani language “paedagogie” meaning lead the child. Someone who lead the child and have a purpose to bring the child to the study place, in Yunani called “paedagogos”.
b.    From essentialist side, education is influence, aid or demand that gived to someone who responsible to the child or students.
2.    Education to the Target View Side
Student is young person who still on potential level, not “maximal” yet. Because of that, eduation or educate called fundamental action. Because educate is make the young person be the real person, educate is hominisation and humanisation process, that is an action that make a person be a person. Hominisation process meaning human process, from potential level be maximal level, where he had do something like a human. While humanisation process indicate a higher development.
Be sides talk about education problems, of course science education talk about instruction too. Instrucion is a teach process, teach manner, teach action or everything about teach or educate. In a big line, instruction method can clarificationed be 2 section, that is:
1.    Konventional Instruction Method
Konventional instruction is a instruction method that usually used by teacher and often called a traditional method. This method, include:
a.    Speech method
b.    Discusion method
c.    Question-answer method
d.    Demonstration and experiment method
e.    Homework method
f.    Teamwork method
g.    Study tour method

2.    Inkonventional Instruction Method
Inkonventional instruction is a new teach technique that unusually used by teacher and general. The example of this method, such teach method with module, instruction with programs, instruction unit, etc.

C.    THEORY EDUCATION
Theory education is a base on practical work education development, such curriculum development, learn and teaching activity and school management. There are four theory education, that is:
1.    Classical Education
Classical education is a oldest theory education. This theory emphasize the content education just than the process. On the practical work, educator have a big character and more dominant. While the student have a passive character, just as a receiver of information and assignment from educator.
Classical education theory base on classical philosophy that view if education function as take care eforts, preserved, and continue the culture legacy. Classical philosophy here, such:
a.    Perenialism, that more emphasize on humanis, personality formation, and mental chacarcteristic.
b.    Essentialism, that give priority to science than humanis. They are more pragmatis, education directioned in prepare young generation to jump down to work world. Orientation on essentialism is at this period and the future. The main purpose of education according to essentialism is get a better work, can make a good cooperation with the other person, and get a lot ultimate.
c.    Eksistensialism
2.    Personalized Education
This theory start from assumption if since borned, the child had have certain skills. Education have to can develop the skills by start from the necessary and interest the child. Here, the child or the student become the main character of education, while the educator just occupy the second position that have a role as guide, booster, facilitator and attendant of the student.
This theory have two current, that is progressive education and romantic education. Progressive education view if the student is a whole unit. While romantic education view everyone in a pure situation, have a honest lustrous, correctness and sincerity.
Personalized education become a source for humanism curriculum style development, that is curriculum style that have a purpose expand the self consciousness and substract the distantly spaced and the stranged from the circles and self actualization process.
3.    Tecnology Education
Tecnology education have a similarity with classical education about character education in convoy the information. But they are different. Because tecnology education more foccus at making and authority the competence or practical skills, not preserving the old culture.
    Here, the content education choosed by special field expert team. The content is object and skills that direct to vocational skills and arranged in program design type or instruction design, and presentated with electronic media.
In this theory, educator function as director of learning, more the management assignment than delivery and deepening of the matter. Then, learning by means of individual learning method, book media or electronic media, so the student can get a certain base skills.

4.    Interactional Education Theory
Theory education that started from human thunking as social creature that always have an interaction and team work with the others. Here, the interation occur between the educator and the student, between the student and the learning material too. This interation occur in a dialogue form.
This theory boceome a source for social reconstructioal curriculum style development, that is a curriculum style that have a purpose to arraign the student to the challenge or disturbance of the human. The interactioanal view according to thinking about human existenty at look the alive in the world that according to the theory about knowledge and value that attentived.
To get an education with humanity climate with pressing on the interaction, so something must get an attention, that is:
a.    Society
Education must according to personal unit, a small community that enable the student know another and have a team work in a right condition.
b.    Situation
Learning have to in the actual context and there must occur a consciousness process in the unique live situation. So, the direction of education refer the future.
c.    Critical Consciousness
The goal of interactional education is help the student to get his critical cosciousness about reality in the society, so the student have a wish to repair his circles, society and culture.


D.    DRAFT EDUCATION
Draft about world education meaning human effort to develop the nature skills until get a result and achievement, so he can  reach the maturity. According to the essence, draft education refer to a guidance process that have within it an element such educator, student and purpose of education. Bacause it, we can take a philosophical analysis that base comprehansion about education, that is:
1.    Education as Culture Transformation Process
Here, education meaned as inheriting culture activity from one generation to the other generation.
2.    Education as Personal Formation Process
Here, education meaned as a systematic and directioned activity to formed the student personality.
3.    Education as National Prepared Process
Here, education meaned as a prepared activity to give a supplies to the student, so later he can become a good and productive national.
4.    Education as Provider Manpower
Here, education meaned as lead activity until the students have a base supplies to work.
        From the explanation above, we know that education is a process that must did by everyone. Education can form human and national personality.
        Then, to drive education system intactly, we must have a number of factor education, that is:
1.    Purpose factor
2.    Educator factor
3.    Student factor
4.    Instrument education factor
5.    Circles factor

E.    CONCLUSION
From the text above, we can pull a conclusion, that is:
    Science eduation is a science that talk about some problem connected with education problem or science that talk about education and theory education.
    In general, eduation problem clssified into 2 side:
1.    Eduction explanation side
2.    Education to the target view side
    In a big line, instruction method can clarificationed be 2 section, that is:
1.    Konventional instruction method
2.    Inkonventional instruction method
    Theory education is a base on practical work education development, such curriculum development, learn and teaching activity and school management.
    The values of theory education, that is:
1.    Classical education
2.    Personalized education
3.    Tecnology education
4.    Interactional education theory
    Draft about world education meaning human effort to develop the nature skills until get a result and achievement, so he can  reach the maturity.
    Philosophical analysis that base comprehansion about education, that is:
1.    Education as culture transformation process
2.    Education as personal formation process
3.    Education as national prepared process
4.    Education as provider manpower
    Factor education, that is:
1.    Purpose factor
2.    Educator factor
3.    Student factor
4.    Instrument education factor
5.    Circles factor
BOOK LIST

Hargenhahn, B. R. And Matthew H. Olson, An Introducion to Theories of Learning, 1977, New Jersey: Prentice Hall
Fifty Modern Thinkers, Fifty Modern Thinkers on Education: From Piaget to the Present, 2001, London and New York: Routledge
Hafid, Anwar, dkk., Konsep Dasar Ilmu Pendidikan, 2013, Bandung: Penerbit Alfabeta
Kadir, Abdul, Dasar-dasar Pendidikan, 2012, Jakarta: Kencana
Ahmadi, Abu dan Nur Uhbiyati, Ilmu Pendidikan, 1991, Bandung: Rineka Cipta
http://sinautp.weebly.com/teori-pendidikan.html
http://arnimabruria.blogspot.com/2010/10/pengertian-dan-ruang-lingkup-ilmu.html
https://nie07independent.wordpress.com/konsep-pendidikan

TUGAS MAKALAH MATA KULIAH ADMINISTRASI PENDIDIKAN KONSEP DASAR KURIKULUM 2013

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR         2
DAFTAR ISI         3
BAB 1 PENDAHULUAN         4
A.    LATAR BELAKANG         4
B.    RUMUSAN MASALAH         4
C.    TUJUAN PENYUSUNAN         4
D.    MANFAAT PENYUSUNAN         5
BAB 2 PEMBAHASAN         6
A.    DESKRIPSI KURIKULUM 2013         6
B.    PENGEMBANGAN KURIKULUM 2013         7
C.    KARAKTERISTIK KURIKULUM 2013         10
D.    KOMPONEN KURIKULUM 2013         11
E.    IMPLEMENTASI KURIKULUM 2013         13
F.    KEUNGGULAN DAN KELEMAHAN KURIKULUM 2013         13
BAB 3 PENUTUP (KESIMPULAN)         15
DAFTAR PUSTAKA         16












BAB 1
PENDAHULUAN

A.    LATAR BELAKANG
Sebagaimana yang kita ketahui bahwasannya zaman terus mengalami perubahan dan perkembangan. Kita sebagai objek pendidikan pun akhirnya juga dituntut untuk mengikuti perkembangan yang ada. Karena ketika kita tidak dapat mengimbangi perkembangan dari sektor lain, dampaknya pun akan sangat fatal. Sebab, pendidikan merupakan bekal yang mutlak dimiliki oleh setiap orang. Sehingga menjadi suatu keharusan bagi pendidikan untuk selalu mengikuti perkembangan zaman.
Perkembangan dalam lingkup pendidikan ini direalisasikan melalui perkembangan kurikulumnya. Jadi, perubahan-perubahan kurikulum yang ada sampai saat ini tidak lain hanyalah untuk menyeimbangkan pendidikan dengan kebutuhan masyarakat yang terus berubah dan berkembang. Hal ini dimaksudkan agar kualitas pendidikan di Indonesia dapat sejajar dengan pendidikan di negara-negara maju lainnya, serta output dari pendidikannya pun dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan Sumber Daya Manusia yang berkualitas yang saat ini masih sangat langka di Indonesia.
Dari situlah saya berusaha untuk mengulas mengenai kurikulum yang ada di Indonesia, khususnya Kurikulum 2013 yang merupakan kurikulum terbaru yang dikeluarkan oleh Kemendikbud, yang diharapkan dapat membantu meningkatkan mutu pendidikan di Indonesia.

B.    RUMUSAN MASALAH
1.    Bagaimana deskripsi dari Kurikulum 2013?
2.    Bagaimana pengembangan dari Kurikulum 2013?
3.    Bagaimana karakteristik dari Kurikulum 2013?
4.    Apa saja komponen dari Kurikulum 2013?
5.    Bagaimana implementasi dari Kurikulum 2013?
6.    Apa saja keunggulan dan kelemahan Kurikulum 2013?

C.    TUJUAN PENYUSUNAN
1.    Memenuhi tugas pembuatan makalah pada mata kuliah Administrasi Pendidikan
2.    Menambah wawasan tentang Kurikulum 2013




D.    MANFAAT PENYUSUNAN
1.    Mengetahui deskripsi dari Kurikulum 2013
2.    Memahami pengembangan dari Kurikulum 2013
3.    Memahami karakteristik dari Kurikulum 2013
4.    Mengetahui apa saja yang menjadi komponen dari Kurikulum 2013
5.    Memahami implementasi dari Kurikulum 2013
6.    Mengetahui apa saja keunggulan dan kelemahan Kurikulum 2013




































BAB 2
PEMBAHASAN

A.    DESKRIPSI KURIKULUM 2013
Kurikulum 2013 merupakan kurikulum yang diterapkan oleh pemerintah untuk menggantikan Kurikulum 2006 atau KTSP (Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan) yang telah berlaku selama kurang lebih 6 tahun. Kurikulum 2013 bertujuan mempersiapkan manusia Indonesia agar memiliki kemampuan hidup sebagai pribadi dan warga negara yang beriman, produkif, kreatif, inovatif dan afektif, serta mampu berkontribusi pada kehidupan bermasyarakat, berbanga, bernegara dan peradaban dunia. Kurikulum 2013 masuk dalam masa percobaannya pada tahun 2013 dengan menjadikan beberapa sekolah sebagai percobaan. Pada tahun 2014, Kurikulum 2013 sudah diterapkan di Kelas I, II, IV, dan V sedangkan untuk SMP diterapkan di Kelas VII dan VIII dan SMA di Kelas X dan XI. Diharapkan, pada tahun 2015 dapat diterapkan di seluruh jenjang pendidikan. Kurikulum 2013 memiliki tiga aspek penilaian, yaitu aspek pengetahuan, aspek keterampilan, dan aspek sikap dan perilaku.
Di dalam Kurikulum 2013, terutama di dalam materi pembelajaran terdapat materi yang dirampingkan dan materi yang ditambahkan. Materi yang dirampingkan terlihat ada di materi Bahasa Indonesia, IPS, PPKn, dsb. Sedangkan materi yang ditambahkan adalah materi Matematika. Materi pelajaran tersebut (terutama Matematika) disesuaikan dengan materi pembelajaran standar Internasional sehingga pemerintah berharap dapat menyeimbangkan pendidikan di dalam negeri dengan pendidikan di luar negeri.
Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Anies Baswedan, menghentikan pelaksanaan Kurikulum 2013 bagi sekolah-sekolah yang baru melaksanakan kurikulum ini selama satu semester pada tanggal 5 Desember 2014, sebagaimana tertulis dalam isi surat Kemendikbud tentang Kurikulum yang berisi tiga poin pokok. Pertama, menghentikan pelaksanaan Kurikulum 2013 di sekolah-sekolah yang baru menerapkan satu semester, yaitu sejak tahun pelajaran 2014-2015. Sekolah-sekolah ini supaya kembali menggunakan Kurikulum 2006 mulai semester genap tahun pelajaran 2014-2015. Kedua, tetap menerapkan Kurikulum 2013 di sekolah-sekolah yang telah tiga semester ini menerapkan, yaitu sejak tahun pelajaran 2013-2014 dan menjadikan sekolah-sekolah tersebut sebagai sekolah pengembangan dan percontohan penerapan Kurikulum 2013. Dan yang terakhir adalah mengembalikan tugas pengembangan Kurikulum 2013 kepada Pusat Kurikulum dan Perbukuan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI.


B.    PENGEMBANGAN KURIKULUM 2013
Pengembangan kurikulum merupkakan suatu proses yang kompleks dan melibatan berbagai komponen yang saling terkait. Oleh karena itu dalam proses pengembangan Kurikulum 2013, tidak hanya menuntut keterampilan teknis dari pihak pengembang terhadap pengembangan berbagai komponen kurikulum, tetapi harus pula dipahami berbagai komponen yang mempengaruhinya.
Alasan perlunya pengembangan Kurikulum 2013, antara lain:
•    Perubahan proses pembelajaran (dari siswa yang diberi tahu menjadi mencari tahu) dan proses penilaian yang memerlukan penambahan jam pelajaran (dari berbasis output menjadi berbasis proses dan output)
•    Kecenderungan banyak negara menambah jam pelajaran
•    Perbandingan dengan negara-negara lain menunjukkan pelajaran di Indonesia dengan negara lain relatif lebih singkat
Selain itu, pengembangan Kurikulum 2013 juga digunakan untuk menghadapi berbagai masalah dan tantangan masa depan yang semakin lama semakin rumit dan kompleks. Berbagai tantangan masa depan tersebut antara lain berkaitan dengan globalisasi dan pasar bebas, masalah lingkungan hidup, pesatnya kemajuan teknologi informasi, konvergensi ilmu dan teknologi, ekonomi berbasis pengetahuan, kebangkitan industri kreatif dan budaya, pergeseran kekuatan ekonomi dunia, pengaruh dan imbas teknosains, mutu, investasi dan transformasi pada sektor pendidikan serta materi TIMSS dan PISA yang harus dimiliki oleh peserta didik.
Untuk menghadapi tantangan tersebut, kurikulum harus mampu membekali pesert didik dengan berbagai kompetensi. Kompetensi yang diperlukan di masa depan sesuai dengan perkembangan global, antara lain: kemampuan berkomunikasi, kemampuan berpikir jernih dan kritis, kemampuan mempertimbangkan segi moral suatu permasalahan, kemampuan menjadi warga negara yang bertanggungjawab, kemampuan mencoba untuk mengerti dan toleran terhadap pandangan yang berbeda, kemampuan hidup dalam masyarakat yang mengglobal, memiliki minat luas dalam kehidupan, memiliki kesiapan untuk bekerja, memiliki kecerdasan sesuai dengan bakat atau minatnya dan memiliki rasa tanggung jawab terhadap lingkungan.
1.    Landasan Pengembangan Kurikulum 2013
Pengembangan Kurikulum 2013 dilandasi secara filosofis, yuridis, teoritis, psikopaedagogies dan konseptual.
a.    Landasan Filosofis
Landasan filosofis merupakan landasan terpenting dalam pengembangan kurikulum. Landasan filosofis sebagai dasar penentuan kualitas peserta didik yang akan dicapai dalam kurikulum, sumber dan isi dari kurikulum, proses pembelajaran, posisi peserta didik, penilaian hasil belajar serta hubungan peserta didik dengan masyarakat dan lingkungan. Landasan filosofis dari Kurikulum 2013 ini menekankan pada pengembangan seluruh potensi peserta didik untuk menjadi manusia berkualitas sesuai dengan tujuan pendidikan nasional.
Berdasarkan uraian tersebut, Kurikulum 2013 dikembangkan dengan landasan filosofis yang meliputi:
•    Filosofis Pancasila yang memberikan berbagai prinsip dasar dalam pembangunan pendidikan.
•    Filosofis pendidikan yang berbasis pada nilai-nilai luhur, nilai akademik, kebutuhan peserta didik dan masyarakat.
b.    Landasan Yuridis
Landasan yuridis merupakan landasan hukum dalam pengembangan Kurikulum 2013. Beberapa landasan yuridis Kurikulum 2013 adalah sebagai berikut.
•    RPJMM 2010-2014 Sektor Pendidikan tentang Perubahan Metodologi Pembelajaran dan Penataan Kurikulum
•    PP No. 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan
•    INPRES Nomor 1 Tahun 2010 tentang Percepatan Pelaksanaan Prioritas Pembangunan Nasional, penyempurnaan kurikulum dan metode pembelajaran aktif berdasarkan nilai-nilai budaya bangsa untuk membentuk daya saing dan karakter bangsa
c.    Landasan Teoritis
Landasan teoritis merupakan landasan yang menjadi arahan dalam pengembangan Kurikulum 2013. Adapun landasan teoritis Kurikulum 2013 menurut Permendikbud No 68 Tahun 2013 tentang Kerangka Dasar dan Struktur Kurikulum SMP/MTs adalah sebagai berikut.
•    Kurikulum 2013 dikembangkan atas teori pendidikan berdasarkan standar (standard-based education) dan teori kurikulum berbasis kompetensi (competency-based curriculum).
•    Kurikulum 2013 menganut pembelajaan yang dilakukan guru (taught curriculum) dan pengalaman belajar langsung peserta didik (learned-curriculum)
d.    Landasan Psikopaedagogies
Dalam konvensi hak anak tahun 1990 dijelaskan bahwa perspektif psikopedagogis anak yang paling logis adalah sampai sejauh mana seorang anak mampu mengubah dirinya sesuai dengan kondisi di sekitarnya. Agar proses perkembangannya optimal, anak memerlukan berbagai kegiatan dan latihan yang sesuai dengan keberadaannya dan sesuai dengan kebutuhan psikologisnya. Kegiatan dan latihan dapat diperoleh anak melalui proses pendidikan.




Berdasarkan uraian tersebut, maka landasan psikopaedagogies adalah sebagai berikut.
•    Relevansi
Kesesuaian program pembelajaran dengan tingkat perkembangan kemampuan anak, tingkat unsur mentalnya (aspek kesesuaian) dan tingkat kebutuhan anak (aspek kecukupan).
•    Model Kurikulum Berbasis Kompetensi
Pembelajaran yang dikembangkan berbasis kompetensi (sikap, keterampilan dan pengetahuan) sehingga dapat memenuhi aspek kesesuaian dan kecukupan.
•    Proses Pembelajaran
Proses pembelajaran berorientasi pada karakteristik kompetensi sikap, keterampilan dan pengetahuan.
•    Penilaian
Didasarkan pada tiga aspek, yakni sikap, keterampilan dan pengetahuan.
e.    Landasan Konseptual
•    Relevansi pendidikan (link and match)
•    Kurikulum berbasis kompetensi dan karakter
•    Pembelajaran kontekstual (contextual teaching and learning)
•    Pembelajaran aktif (student active learning)
•    Penilaian yang valid, utuh dan menyeluruh
2.    Prinsip Pengembangan Kurikulum 2013
Prinsip pengembangan adalah asas atau kebenaran yang menjadi pokok dasar berpikir dari pengembangan Kurikulum 2013. Pengembangan Kurikulum 2013 didasarkan pada prinsip-prinsip sebagai berikut.
a.    Kurikulum satuan pendidikan atau jenjang pendidikan bukan merupakan daftar mata pelajaran.
b.    Standar kompetensi lulusan ditetapkan untuk satu satuan pendidikan, jenjang pendidikan, dan program pendidikan.
c.    Model kurikulum berbasis kompetensi ditandai oleh pengembangan kompetensi berupa sikap, pengetahuan, keterampilan berpikir, dan keterampilan psikomotorik yang dikemas dalam berbagai mata pelajaran.
d.    Kurikulum didasarkan pada prinsip bahwa setiap sikap, keterampilan dan pengetahuan yang dirumuskan dalam kurikulum berbentuk Kemampuan Dasar dapat dipelajari dan dikuasai setiap peserta didik (mastery learning) sesuai dengan kaidah kurikulum berbasis kompetensi.
e.    Kurikulum dikembangkan dengan memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk mengembangkan perbedaan dalam kemampuan dan minat.
f.    Kurikulum berpusat pada potensi, perkembangan, kebutuhan, dan kepentingan peserta didik serta lingkungannya.
g.    Kurikulum harus tanggap terhadap perkembangan ilmu pengetahuan, budaya, teknologi dan seni.
h.    Kurikulum harus relevan dengan kebutuhan kehidupan.
i.    Kurikulum diarahkan kepada proses pengembangan, pembudayaan dan pemberdayaan peserta didik yang berlangsung sepanjang hayat.
j.    Kurikulum dikembangkan dengan memperhatikan kepentingan nasional dan kepentingan daerah untuk membangun kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.
k.    Penilaian hasil belajar ditujukan untuk mengetahui dan memperbaiki pencapaian kompetensi.
3.    Tujuan Pengembangan Kurikulum 2013
Melalui Kurikulum 2013, kita akan menghasilkan insan Indonesia yang produktif, kreatif, inovaif dan afektif melalui penguatan sikap, keterampilan dan pengetahuan yang terintegrasi. Mengacu pada penjelasan UU No. 20 Tahun 2003, bagian umum dikatakan, bahwa: “Strategi pembangunan pendidikan nasional dalam undang-undang ini meliputi:...., 2. Pengembangan dan pelaksanaan kurikulum berbasis kompetensi,....” dan pada penjelasan Pasal 35, bahwa “Kompetensi lulusan merupakan kualifikasi kemampuan lulusan yang mencakup sikap, pengetahuan dan keterampilan sesuai dengan standar nasional yang telah disepakati.” Maka diadakan perubahan kurikulum dengan tujuan untuk “Melanjutkan Pengembangan Kurikulum Berbasis Kompetensi yang telah dirintis pada tahun 2004 dengan mencakup kompetensi sikap, pengetahuan dan keterampilan secara terpadu.”
    Untuk mencapai tujuan tersebut menuntut perubahan pada berbagai aspek lain, terutama dalam implementasinya di lapangan. Pada proses pembelajaran, dari siswa diberi tahu menjadi siswa mencari tahu, sedangkan pada proses penilaian, dari berfokus pada pengetahuan melalui penilaian output menjadi berbasis kemampuan melalui penilaian proses, portofolio dan penilaian output secara utuh dan menyeluruh, sehingga memerlukan penambahan jam pelajaran.

C.    KARAKTERISTIK KURIKULUM 2013
Setiap kurikulum tentunya memiliki karakteristik yang hendak ditampilkan, agar dapat membedakannya dengan kurikulum yang ada sebelumnya. Karakteristik ini juga akan menggambarkan berbagai hal yang hendak diwujudkan melalui pelaksanaan kurikulum ini termasuk strategi yang digunakan untuk mewujudkannya. Kurikulum 2013 dirancang dengan karakteristik sebagai berikut:
1.    Mengembangkan keseimbangan antara pengembangan sikap spiritual dan sosial, rasa ingin tahu, kreativitas, kerja sama dengan kemampuan intelektual dan psikomotorik.


2.    Sekolah merupakan bagian dari masyarakat yang memberikan pengalaman belajar terencana dimana peserta didik menerapkan apa yang dipelajari di sekolah ke masyarakat dan memanfaatkan masyarakat sebagai sumber belajar.
3.    Mengembangkan sikap, pengetahuan, dan keterampilan serta menerapkannya dalam berbagai situasi di sekolah dan masyarakat.
4.    Memberi waktu yang cukup leluasa untuk mengembangkan berbagai sikap, pengetahuan, dan keterampilan.
5.    Kompetensi dinyatakan dalam bentuk kompetensi inti kelas yang dirinci lebih lanjut dalam kompetensi dasar mata pelajaran.
6.    Kompetensi inti kelas menjadi unsur pengorganisasi (organizing elements) kompetensi dasar, dimana semua kompetensi dasar dan proses pembelajaran dikembangkan untuk mencapai kompetensi yang dinyatakan dalam kompetensi inti.
7.    Kompetensi dasar dikembangkan didasarkan pada prinsip akumulatif, saling memperkuat (reinforced) dan memperkaya (enriched) antarmatapelajaran dan jenjang pendidikan (organisasi horizontal dan vertikal).

D.    KOMPONEN KURIKULUM 2013
Suatu kurikulum harus memiliki kesesuaian atau relevansi. Kesesuaian ini meliputi dua hal. Pertama, kesesuaian antara kurikulum dengan tuntutan, kebutuhan, kondisi, dan perkembangan masyarakat. Kedua, kesesuaian antar komponen-komponen. Adapun komponen-komponen pengembangan kurikulum, yaitu:
1.    Komponen Tujuan
Komponen tujuan merupakan komponen pembentuk kurikulum yang berkaitan dengan hal-hal yang ingin dicapai atau hasil yang diharapkan dari kurikulum yang akan dijalankan. Tujuan pendidikan diklasifikasikan menjadi empat, yaitu:
a.    Tujuan Pendidikan Nasional
Tujuan pendidikan nasional dapat dilihat secara jelas dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, bahwa “Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab”.
b.    Tujuan Institusional
Tujuan institusional adalah tujuan yang harus dicapai oleh setiap lembaga pendidikan. Dalam Permendiknas No. 22 Tahun 2007 dikemukakan bahwa tujuan pendidikan tingkat satuan pendidikan dasar dan menengah dirumuskan sebagai berikut.
•    Tujuan pendidikan dasar adalah meletakkan dasar kecerdasan, pengetahuan, kepribadian, akhlak mulia, serta keterampilan untuk hidup mandiri dan mengikuti pendidikan lebih lanjut.
•    Tujuan pendidikan menengah adalah meningkatkan kecerdasan, pengetahuan, kepribadian, akhlak mulia, serta keterampilan untuk hidup mandiri dan mengikuti pendidikan lebih lanjut.
•    Tujuan pendidikan menengah kejuruan adalah meningkatkan kecerdasan, pengetahuan, kepribadian, akhlak mulia, serta keterampilan untuk hidup mandiri dan mengikuti pendidikan lebih lanjut sesuai dengan kejuruannya.
c.    Tujuan Kurikuler
Tujuan kurikuler adalah tujuan yang harus dicapai oleh setiap bidang studi atau mata pelajaran.
d.    Tujuan Instruksional atau Tujuan Pembelajaran
Tujuan pembelajaran yang merupakan bagian dari tujuan kurikuler, dapat didefinisikan sebagai kemampuan yang harus dimiliki oleh anak didik setelah mereka mempelajari bahasan tertentu dalam bidang studi tertentu dalam satu kali pertemuan.
2.    Komponen Isi
Isi program kurikulum adalah segala sesuatu yang diberikan kepada anak didik dalam kegiatan belajar mengajar dalam rangka mencapai tujuan. Isi kurikulum meliputi jenis-jenis bidang studi yang diajarkan dan isi program dari masing-masing bidang studi tersebut.
3.    Komponen Metode
Komponen metode atau strategi merupakan komponen yang cukup penting karena metode dan strategi yang digunakan dalam kurikulum tersebut menentukan apakah materi yang diberikan atau tujuan yang diharapkan dapat tercapai atau tidak. Pemilihan atau pembuatan metode atau strategi dalam menjalankan kurikulum yang telah dibuat haruslah sesuai dengan materi yang akan diberikan dan tujuan yang ingin dicapai.
4.    Komponen Evaluasi
Komponen evaluasi merupakan bagian dari pembentuk kurikulum yang berperan sebagai cara untuk mengukur atau melihat apakah tujuan yang telah dibuat itu tercapai atau tidak. Selain itu, dengan melakukan evaluasi, kita dapat mengetahui apabila ada kesalahan pada materi yang diberikan atau metode yang digunakan dalam menjalankan kurikulum yang telah dibuat dengan melihat hasil dari evaluasi tersebut. Dengan begitu, kita juga dapat segera memperbaiki kesalahan yang ada atau mempertahankan bahkan meningkatkan hal-hal yang sudah baik atau berhasil.




E.    IMPLEMENTASI KURIKULUM 2013
Dalam implementasi Kurikulum 2013 yang perlu diperhatikan adalah pentingnya impelementasi Kurikulum 2013 secara efektif. Pada prinsip pelaksanaannya, proses pembelajaran Kurikulum 2013 adalah suatu upaya pemahaman dua tipe kurikulum, yakni ideal curriculum dan actual curriculum. Ideal curriculum merupakan kurikulum yang dicita-citakan dalam bentuk rencana, ideal, teks yang belum dilaksanakan. Sedangkan actual curriculum merupakan kurikulum yang dilaksanakan dalam proses pembelajaran.
Optimalisasi kualitas pembelajaran di sekolah/madrasah dapat dilihat pada sejauh mana adanya kesenjangan antara kurikulum ideal dan aktual. Semakin rendah adanya kesenjangan antara keduanya, maka semakin besar keberhasilan dari proses pembelajaran, begitu pun sebaliknya. Tetapi, faktanya antara kedua kurikulum tetap ada kesenjangan. Artinya tidak mungkin dalam proses pembelajaran di sekolah/madrasah dapat terlaksana sepenuhnya, seperti diharapkan dalam kurikulum ideal. Hal yang perlu menjadi perhatian seksama dan terpenting bagi seorang pendidik/guru adalah pentingnya menekan tingkat kesenjangan itu serendah mungkin.
Keberadaan Kurikulum 2013 sebagai respon dan jawaban terhadap beragam kebutuhan masyarakat (social needs) juga akan terimplementasi dengan baik apabila didukung oleh berbagai komponen, seperti tenaga pengajar, metode yang digunakan, iklim belajar, kompetensi guru, sarana-prasarana dan keadaan anak didik (input). Dalam aplikasinya, Kurikulum 2013 menuntut peran dan fungsi sekolah/madrasah dalam mempersiapkan SDM masa depan yang didambakan. Hal ini urgen mengingat sejak krisis multidimensi sejak 1998 hingga kini, menunjukkan banyak anak usia sekolah mengalami drop out, dan terlibat dalam perilaku sosial menyimpang (social devience), pergaulan bebas, tawuran, narkoba dan bahkan berbagai jenis kriminal.
Implementasi Kurikulum 2013 di sekolah/madrasah diharapkan dapat memberikan kesempatan kepada anak didik agar dapat mengembangkan “prestasi” dan “makna” sebagaimana dikatakan oleh Mochtar Bukhori bahwa, “Anak didik perlu memiliki ‘makna kehidupan’ di samping memperoleh ‘prestasi’ sains dan teknologi.

F.    KEUNGGULAN DAN KELEMAHAN KURIKULUM 2013
1.    Keunggulan Kurikulum 2013
•    Kurikulum 2013 menggunakan pendekatan alamiah, karena berangkat, berfokus dan bermuara pada hakikat peserta didik untuk mengembangkan berbagai kompetensi sesuai dengan potensinya masing-masing. Dalam hal ini peserta didik merupakan subjek belajar, dan proses belajar berlangsung secara alamiah dalam bentuk bekerja dan mengalami berdasarkan kompetensi tertentu, bukan transfer pengetahuan (transfer of knowledge).
•    Kurikulum 2013 yang berbasis karakter dan kompetensi boleh jadi mendasari pengembangan kemampuan-kemampuan lain. Penguasaan ilmu pengetahuan dan keahlian tertentu dalam suatu pekerjaan, kemampuan memecahkan masalah dalam kehidupan sehari-hari, serta pengembangan aspek-aspek kepribadian dapat dilakukan secara optimal berdasarkan standar kompetensi tertentu.
•    Ada bidang-bidang studi atau mata pelajaran tertentu yang dalam pengembangannya lebih tepat menggunakan pendekatan kompetensi, terutama yang berkaitan dengan keterampilan.
2.    Kelemahan Kurikulum 2013
•    Kurikulum 2013 bertentangan dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional karena penekanan pengembangan kurikulum hanya didasarkan pada orientasi pragmatis. Selain itu, Kurikulum 2013 tidak didasarkan pada evaluasi dari pelaksanaan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP), sehingga dalam pelaksanaannya bisa membingungkan guru dan pemangku pendidikan.
•    Pemerintah seolah melihat semua guru dan siswa memiliki kapasitas yang sama dalam Kurikulum 2013. Guru juga tidak pernah dilibatkan langsung dalam proses pengembangan Kurikulum 2013.
•    Pengintegrasian mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) dan Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) dalam mata pelajaran Bahasa Indonesia untuk jenjang pendidikan dasar. Dewan Pendidikan DIY menilai langkah ini tidak tepat karena rumpun ilmu mata pelajaran-mata pelajaran tersebut berbeda.




















BAB 3
PENUTUP

KESIMPULAN:
    Kurikulum 2013 merupakan kurikulum yang diterapkan oleh pemerintah untuk menggantikan Kurikulum 2006 atau KTSP (Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan) yang telah berlaku selama kurang lebih 6 tahun. Kurikulum 2013 bertujuan mempersiapkan manusia Indonesia agar memiliki kemampuan hidup sebagai pribadi dan warga negara yang beriman, produkif, kreatif, inovatif dan afektif, serta mampu berkontribusi pada kehidupan bermasyarakat, berbanga, bernegara dan peradaban dunia.
Pengembangan kurikulum merupkakan suatu proses yang kompleks dan melibatan berbagai komponen yang saling terkait. Salah satu alasan perlunya pengembangan Kurikulum 2013 adalah perubahan proses pembelajaran (dari siswa yang diberi tahu menjadi mencari tahu) dan proses penilaian yang memerlukan penambahan jam pelajaran (dari berbasis output menjadi berbasis proses dan output).
Setiap kurikulum tentunya memiliki karakteristik yang hendak ditampilkan, begitupun dengan Kurikulum 2013. Salah satu karakteristik yang merancang Kurikulum 2013 adalah mengembangkan keseimbangan antara pengembangan sikap spiritual dan sosial, rasa ingin tahu, kreativitas, kerja sama dengan kemampuan intelektual dan psikomotorik. Selain karakteristik, Kurikulum 2013 juga memiliki beberapa komponen, antara lain komponen tujuan, komponen isi, komponen metode dan komponen evaluasi.
Keberadaan Kurikulum 2013 sebagai respon dan jawaban terhadap beragam kebutuhan masyarakat (social needs) akan terimplementasi dengan baik apabila didukung oleh berbagai komponen, seperti tenaga pengajar, metode yang digunakan, iklim belajar, kompetensi guru, sarana-prasarana dan keadaan anak didik (input).
Kurikulum 2013 memiliki keunggulan dan kelemahan. Salah satu keunggulannya, yakni Kurikulum 2013 menggunakan pendekatan alamiah, karena berangkat, berfokus dan bermuara pada hakekat peserta didik untuk menegmbangkan berbagai kompetensi sesuai dengan potensinya masing-masing. Dalam hal ini peserta didik merupakan subjek belajar, dan proses belajar berlangsung secara alamiah dalam bentuk bekerja dan mengalami berdasarkan kompetensi tertentu, bukan transfer penegtahuan (transfer of knowledge). Sedangkan kelemahannya, salah satunya adalah Kurikulum 2013 bertentangan dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional karena penekanan pengembangan kurikulum hanya didasarkan pada orientasi pragmatis. Selain itu, Kurikulum 2013 tidak didasarkan pada evaluasi dari pelaksanaan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP), sehingga dalam pelaksanaannya bisa membingungkan guru dan pemangku pendidikan.





DAFTAR PUSTAKA

Mulyasa, Pengembangan dan Implementasi Kurikulum 2013, 2013, Bandung: PT Remaja Rosdakarya
Idi, Abdullah dan Safarina, Pengembangan Kurikulum Teori dan Praktik, 2014, Jakarta: Rajagratindo Persada
http://news.okezone.com/read/2014/12/08/65/1076058/isi-surat-mendikbud-tentang-kurikulum-2013?gclid=Cj0KEQjw6OOoBRDP9uG4oqzUv7kBEiQA0sRYBHAzrg4FrrSX12QqUd6hLg6Zp_fDG0GHiXT82lOA4qkaAs8K8P8HAQ
http://id.wikipedia.org/wiki/Kurikulum_2013
http://jhonmiduk8.blogspot.com/2014/03/konsep-dasar-dan-pengembangan-kurikulum.html
http://edukasi.kompas.com/2012/12/19/12564532/Ini.Kelemahan-kelemahan.Kurikulum.2013

Jumat, 13 Maret 2015

TUGAS MAKALAH MATA KULIAH FILSAFAT ILMU PENDEKATAN ILMIAH NON POSITIVISTIK (JURGEN HABERMAS)

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR         2
DAFTAR ISI         3
BAB 1 PENDAHULUAN         4
A.    LATAR BELAKANG         4
B.    RUMUSAN MASALAH         4
C.    TUJUAN PENYUSUNAN         4
D.    MANFAAT PENYUSUNAN         4
BAB 2 PEMBAHASAN         5
A.    RIWAYAT HIDUP JURGEN HABERMAS         5
B.    PEMIKIRAN JURGEN HABERMAS         6
1.    Filsafat Kritis Jurgen Habermas         6
2.    Perkembangan Pemikiran Jurgen Habermas         7
3.    Kebebasan Nilai menurut Jurgen Habermas         8
4.    Kritik Habermas Terhadap Paham Positivisme         9
C.    KARYA-KARYA PENTING JURGEN HABERMAS         10
BAB 3 PENUTUP (KESIMPULAN)         11
DAFTAR PUSTAKA         12











BAB 1
PENDAHULUAN

A.    LATAR BELAKANG
Dewasa ini, kita menyadari bahwasannya telah terjadi perkembangan di berbagai bidang kehidupan. Salah satu yang paling terlihat dan juga paling dekat hubungannya dengan kita adalah bidang pendidikan. Kita tahu bahkan juga merasakan dampaknya secara langsung, perkembangan dunia pendidikan kita. Mulai dari metode pembelajarannya, kurikulumnya, bahkan dari segi ilmunya pun mengalami perubahan dan perkembangan. Semua itu, tak lepas dari peran para ahli yang telah berpikir keras demi memajukan peradaban. Contohnya, yakni Jurgen Habermas, seorang filsuf asal Jerman yang telah menyumbangkan pemikiran-pemikirannya dalam filsafat maupun ilmu-ilmu sosial lainnya.
Di sini, kita akan mencoba membahas tentang pemikiran dari Jurgen Habermas. Sehingga kita tahu perkembangan-perkembangan ilmu saat ini, khususnya yang berasal dari pemikiran Habermas dan setelah itu kita dapat menganalisa lebih lanjut, seperti mencari tahu apakah kita juga telah merasakan dampak dari perkembangan tersebut atau belum.

B.    RUMUSAN MASALAH
1.    Bagaimana riwayat hidup Jurgen Habermas?
2.    Bagaimana pemikiran Jurgen Habermas?
3.    Apa saja karya penting dari Jurgen Habermas?

C.    TUJUAN PENYUSUNAN
1.    Memenuhi tugas pembuatan makalah pada mata kuliah Filsafat Ilmu
2.    Menambah wawasan tentang pemikiran dari Jurgen Habermas
   
D.    MANFAAT PENYUSUNAN
1.    Mengetahui riwayat hidup Jurgen Habermas
2.    Mengetahui pemikiran Jurgen Habermas
3.    Mengetahui karya-karya penting dari Jurgen Habermas




BAB 2
PEMBAHASAN

A.    RIWAYAT HIDUP JURGEN HABERMAS
Jurgen Habermas adalah seorang filsuf dan sosiolog dari Jerman yang dilahirkan pada tanggal 18 Juni 1929 di kota Dusseldorf, Jerman. Dia dibesarkan di kota Gummersbach, kota kecil dekat dengan Dusseldorf.
Kemudian ia melanjutkan studinya di Universitas Gottingen, ia mempelajari kesusasteraan, sejarah dan filsafat serta mengikuti kuliah psikologi dan ekonomi. Setelah itu, ia meneruskan studi filsafat di Universitas Bonn yang mana pada tahun 1954 ia meraih gelar “doktor filsafat” dengan sebuah disertasi berjudul Das Absolute und die Geshichte (Yang Absolut dan Sejarah). Bersamaan dengan itu juga, ia mulai aktif dalam diskusi-diskusi politik. Hal ini juga yang mendorong Habermas masuk ke partai National Socialist Germany.
Kemudian, Jurgen Habermas bergabung dengan Institut Penelitian Sosial di Frankfurt tepatnya pada tahun 1956, yakni lima tahun pasca institut tersebut didirikan kembali di bawah kepemimpinan Theodor Adorno, seorang filsuf Jerman terkemuka. Di situ, Habermas ditunjuk menjadi asisten dari Adorno, tepatnya ketika ia berusia 27 tahun. Habermas belajar tentang sosiologi dari Theodor Adorno. Kemudian, ia mengambil bagian dalam suatu proyek penelitian mengenai sikap politik Mahasiswa di Universitas Frankfurt. Pada tahun 1964, hasil penelitiannya dipublikasikan dalam sebuah buku Student und Politik (Mahasiswa dan Politik). Ketika Jurgen Habermas bekerja di Institut Penelitian Sosial tersebut, ia mulai mempelajari pemikiran dari Marxisme.
Sekitar waktu yang sama Habermas mempersiapkan Habilitations schift-nya. Karangan in diberi judul Strukturwandel der Oeffentlichkeit (Tranformasi struktural dari lingkup umum), suatu studi yang mempelajari sejauh mana demokrasi masih mungkin dalam masyarakat modern. Fokus utama dari tulisan itu adalah tentang berfungsi tidaknya pendapat umum dalam masyarakat modern. Pada kurun waktu yang sama, Habermas diundang menjadi profesor filsafat Universitas Hiedelberg (1961-1964). Pada tahun 1964, ia kembali ke Universitas Frankfurt, karena diangkat menjadi profesor sosiologi dan filsafat menggantikan Horkheimer.
Pemikiran Marx yang telah dikenali Habermas sejak di Mazhab Frankfurt cukup memengaruhi pemikirannya secara utuh. Peranan ia sebagai seorang Marxis tampak ketika ia turut berperan serta dalam gerakan Mahasiswa Frankfurt. Sekitar tahun 1960-1970an merupakan periode demonstrasi “gerakan Mahasiswa kiri baru yang radikal” yang sedang marak. Sebagai seorang pemikiri Marxis, ia cukup dikenal oleh gerakan Mahasiswa tersebut, bahkan sempat menjadi ideolognya, walaupun keterlibatannya hanya sejauh sebagai pemikir Marxis. Habermas sangat populer dikalangan kelompok yang bernama Sozialistischer Deutsche Studentenbund (Kelompok Mahasiswa Sosialis Jerman).
Akan tetapi, kedekatan Jurgen Habermas dengan kelompok Mahasiswa yang beraliran kiri radikal tidak terlalu lama. Hal itu dikarenakan, aksi-aksi Mahasiswa yang mulai melewati ambang batas, yaitu dengan menggunakan tindak anarkis atau tindak kekerasan. Akibatnya, Habermas mengkritik tindakan Mahasiswa yang melampaui batas tersebut. Akan tetapi, akibat dari kritikan tersebut, Jurgen Habermas harus bernasib sama dengan Max Horkheimer dan Theodor Adorno, yang terlibat konflik dengan Mahasiswa.
Di dalam bukunya yang diterbitkan pada tahun 1969 yang berjudul Protestbewegung und Hochschulreform (Gerakan opsisi dan pembahasan perguruan tinggi), Jurgen Habermas mengkritik secara pedas aksi-aksi kekerasan yang dilakukan oleh Mahasiswa kiri. Bagi Habermas, aksi-aksi yang dilakukan oleh para Mahasiswa kiri tersebut dikecam sebagai ‘revolusi palsu’, bentuk-bentuk pemerasan yang diulang kembali, dan counterproductive.
Akhirnya, Habermas dengan Mahasiswa beraliran kiri tersebut makin bertentangan. Hal ini mendorong Habermas untuk keluar dari Universitas Frankfurt. Habermas menerima tawaran untuk bekerja di Max Planck Institut di kota Stanberg sebagai peneliti. Habermas bekerja di sana selama 10 tahun sampai lembaga penelitian ini dibubarkan. Selama di Max Planck Institut, Habermas telah mencapai kematangan pemikiran filosofisnya.
Pada akhirnya, Jurgen Habermas kembali ke Universitas Frankfurt sebagai profesor filsafat. Ia mengajar di Universitas Frankfurt sampai memasuki masa pensiunnya pada tahun 1994. Pada waktu itu, Habermas sudah memiliki reputasi internasional yang besar dan banyak diminta untuk berbicara di berbagai pertemuan atau diskusi ilmiah.

B.    PEMIKIRAN JURGEN HABERMAS
1.    Filsafat Kritis Jurgen Habermas
Jurgen Habermas merupakan seorang tokoh yang dewasa ini pemikirannya begitu berpengaruh terhadap dunia filsafat maupun ilmu-ilmu sosial lainnya, yakni pemikirannya tentang filsafat kritis. Filsafat kritis adalah suatu paham filsafat yang berkaitan erat dengan kritik terhadap hubungan sosial, filsafat yang merasa bertanggungjawab terhadap keadaan sosial yang nyata.
Pemikiran Jurgen Habermas tentang filsafat kritis ini sendiri dipengaruhi oleh Mazhab Frankfurt yang terkenal dengan dengan Teori Kritis-nya. Disebut Teori Kritis karena mazhab pemikiran ini dikenal sangat gemar mensosialisasikan suatu gaya berpikir analisis. Kunci untuk memahami Teori Kritis ini adalah kritik. Selain itu, kritik juga merupakan suatu program bagi Mazhab Frankfurt untuk merumuskan suatu teori yang bersifat emansipatoris tentang kebudayaan dan masyarakat modern.
Teori Kritis menurut Jurgen Habermas bukanlah teori ilmiah sebagaimana yang kita kenal. Habermas menggambarkan Teori Kritis sebagai suatu metodologi yang berdiri di dalam ketegangan dialektis antara filsafat dan ilmu pengetahuan (sosiologi). Teori Kritis tidak hanya berhenti pada faktor-faktor objektif, yang umumnya dianut oleh aliran positivistik. Teori ini berusaha menembus realitas sosial sebagai fakta sosiologis, untuk menemukan kondisi yang bersifat transendental yang melampaui data empiris.
Namun, di sini Habermas tidak hanya berperan sebagai penerus dari Mazhab Frankfurt dan Teori Kritis, tetapi Habermas merupakan pembaharu atas kelemahan teori ini, yakni dengan melihat para pendahulunya yang mengalami kemacetan dan kepesimisan ketika melihat dunia modern. Oleh sebab itu, Habermas dikenal sebagai pembaharu tradisi intelektual.
Dalam pembaharuannya, Habermas menambahkan konsep komunikasi ke dalam Teori Kritis. Menurutnya, komunikasi dapat menyelesaikan kemacetan Teori Kritis yang ditawarkan oleh pendahulunya. Di sini, Habermas membedakan antara pekerjaan dan komunikasi. Menurutnya, pekerjaan merupakan tindakan instrumental yang bertujuan untuk mencapai sesuatu. Sedangkan komunikasi merupakan tindakan saling pengertian. Habermas juga berpendapat mengenai hal-hal yang menyebabkan kemacetan dalam Teori Kritis. Ia beranggapan bahwa ada dua hal yang memicu kemacetan tersebut, yakni praksis yang dilandasi kesadaran rasional, di mana praksis merupakan suatu hal yang tidak dapat dipisahkan dengan teori. Dan kesadaran rasional yang di maksud di sini, yakni yang tidak hanya tampak dalam kegiatan-kegiatan yang dilakukan, melainkan interaksi dengan orang lain yang menggunakan bahasa sehari-hari. Selain itu, para pendahulunya yang memandang rasionalitas sebagai suatu kekuasaan juga menjadi penyebab kemacetan menurut Habermas. Dari situ, Jurgen Habermas berpendirian, bahwa kritik hanya dapat maju dengan rasio komunikatif yang dimengerti sebagai praksis komunikatif atau tindakan komunikatif.

2.    Perkembangan Pemikiran Jurgen Habermas
Titik tolak pemikiran Jurgen Habermas adalah paham dari para pendahulunya, yakni Max Horkheimer dan Theodor Adorno yang merupakan pengikut dari Mazhab Frankfurt tentang Teori Kritis. Gagasan sebuah teori kritis masyarakat ditemukan Habermas pada Karl Marx.
Berhadapan dengan penindasan-penindasan yang dialami kaum buruh dalam sistem kapitalisme, Marx membongkar kepercayaan bahwa hukum ekonomi kapitalistik adalah sesuatu yang alamiah dan abadi. Kapitalisme adalah hasil kerja dari manusia sendiri. Penindasannya bukan suatu hal yang tinggal diterima saja. Apabila kita membaca sejarah secara kritis, kita akan menyadari dua hal. Pertama, bahwa keadaan di bawah kapitalisme tidak wajar, dan kedua bahwa apa yang tampak sebagai hukum objektif adalah perbuatan manusia sendiri, hasil sejarah dan terbuka untuk perubahan. Dengan demikian teori Marx membuka jalan ke tindakan emansipasi.
Habermas memperdalam pikiran ini dengan mempergunakan model psikoanalisa, dengan mengingat sejarahnya. Dari situ ia menyadari bahwa situasi yang sekarang ternyata dapat diubah. Dengan demikian, teori sebagai teori menjadi praktis, di mana praktis di sini diartikan oleh Habermas sebagai komunikasi yang mewujudkan kehidupan masyarakat yang nyata. Dan inilah yang menjadi permulaan emansipasi.
Akan tetapi, menurut Habermas, Marx tidak mempertahankan pendekatannya secara konsisten. Marx memahami teorinya menurut pola teori ilmu alam, sebagai teori objektif yang sekedar mendeskripsikan hukum-hukum objektif perkembangan masyarakat. Di sini Habermas berbicara tentang salah paham positivistik Marx terhadap teorinya sendiri. Menurut Habermas, Marx merosot menjadi seorang positivis sosial karena ia mereduksikan manusia pada satu macam tindakan saja, yakni pada pekerjaan. Di sini berarti Marx memahami komunikasi dalam kerangka pekerjaan, dan menurut Habermas hal itulah yang menyebabkan teori Marx gagal sebagai teori emansipatif. Kritik terhadap Marx inilah yang kemudian menjadi inti pemikiran Jurgen Habermas selanjutnya.
Namun, dalam kasus ini bukan hanya Marx yang mereduksikan manusia pada pekerjaan, melainkan seluruh teori kritis masyarakat mengikuti Marx dalam penyempitan perspektif itu. Menurut Habermas itulah sebabnya para pendahulunya tidak melihat jalan ke luar dari “dialektika pencerahan”, dari analisis mereka, bahwa manusia, semakin merasionalkan kehidupannya justru menjadi semakin irasional.

3.    Kebebasan Nilai menurut Jurgen Habermas
Masalah apakah ilmu-ilmu pengetahuan, terutama ilmu-ilmu sosial, harus bekerja dengan bebas nilai (berbicara tentang yang ada, bukan yang harus ada) disebut dengan Perselisihan Metoda. Seperti Menger dan Schmoller yang mempersoalkan apakah ilmu ekonomi harus memakai metoda eksak atau historis. Istilah kebebasan nilai (Wertfreiheit) dibentuk dalam perselisihan nilai (Werturteilsstreit). Dalam perselisihan itu dipersoalkan syarat-syarat kemungkinan ilmu-ilmu sosial dan ekonomis yang normatif.
Dalam perselisihan positivisme, Popper dan Albert mengemukakan postulat kebebasan nilai yang sebaliknya diserang oleh Adorno dan Habermas.  Perselisihan itu disebut dengan perselisihan positivisme karena para wakil Teori Kritis Masyarakat berpendapat bahwa tuntutan agar ilmu-ilmu sosial bekerja bebas dari berbagai penilaian, pada dasarnya berakar dalam pendekatan positivistik. Positivisme memang mau membatasi ilmu-ilmu pengetahuan pada fakta dan mengesampingkan pertanyaan-pertanyaan mengenai nilai sebagai irasional. Rasionalisme Kritis sendiri menolak usaha Adorno cs. untuk memasukannya ke dalam suatu keranjang dengan positivisme, dan menyatakan diri sebagai anti-positivistik.
Situasi lucu di sini, yakni Adorno cs. menuduh Popper cs. sebagai positivis, sedangkan Popper cs. menuduh Adorno cs. sebagai positivis yang sebenarnya. Dua-duanya menyatakan diri melawan positivisme. Memang, keduanya menolak verifikasi sebagai kriteria kebenaran. Penolakan itu, baik menurut rasionalisme kritis maupun teori kritis, bukan hanya mengenai ilmu-ilmu manusia, tetapi juga pada ilmu-ilmu alam. Namun, penolakan ini juga merupakan akhir kesepakatan antara dua aliran itu. Popper cs. mengembalikan keberlakuan suatu hipotesa pada keputusan para ilmuwan untuk menyepakati dasar-dasarnya. Sedangkan Habermas mengembalikannya kepada pengarahan penelitian oleh kepentingan-kepentingan vital umat manusia (yang berbeda untuk ilmu-ilmu alam dan ilmu-ilmu sosial). Maka menurut Jurgen Habermas bukan saja postulat kebebasan nilai merupakan ilusi bagi ilmu-ilmu sosial, melainkan ilmu pengetahuan alam sama saja tidak bebas nilai.
Bagi Habermas, kritik terhadap postulat kebebasan nilai ilmu pengetahuan bukan sekedar masalah teori ilmu pengetahuan, melainkan ia mau membuka kedok suatu ideologi yang kekuasaannya menghalang-halangi emansipasi manusia.

4.    Kritik Habermas terhadap Paham Positivisme
Konsep ilmu pengetahuan dan kepentingan adalah konsep utama yang dikemukakan Habermas dalam melakukan kritik terhadap paradigma positivisme, akibat klaim teori positivisme yang menganggap bahwa ilmu pengetahuan adalah bebas nilai, seperti halnya yang terjadi pada ilmu-ilmu alam. Bagi positivisme sebuah riset sosial harus menghasilkan deskripsi dan penjelasan-penjelasan ilmiah yang tidak memihak dan tidak memberikan penilaian apapun. Seorang ilmuwan dan peneliti harus mampu meninggalkan perasaannya, harapannya, keinginannya dan penilaian moralnya atau singkatnya segala kepentingan itu untuk mendekati objek penelitian sosialnya sehingga diperoleh “pengetahuan objektif” tentang kenyataan sosial atau fakta sosial.
Horkheimer dan Adorno telah mengembangkan pendekatan kritis dan materialistik itu menjadi kritik menyeluruh terhadap masyarakat industri barat, semakin maju masyarakat industri modern menjadi masyarakat konsumsi berlimpah serta berhasil melarutkan pertentangan-pertenangan antar kelas sosial mengakibatkan masyarakat itu semakin bersifat total. Hal ini dalam pandangan teori kritis masyarakat sebagai akibat dari dominasi prinsip dasar kapitalisme, yaitu prinsip tukar. Akan tetapi kekuasaan halus prinsip tukar itu juga semakin total sehingga setiap usaha-usaha untuk pembebasannya pun justru semakin memperkuatnya. Akibatnya, Horkheimer dan Adorno bersikap semakin pesimistik.
Berbeda halnya dengan Habermas, ia tidak mengikuti gaya filsafat para pendahulunya yang pesimistik, melainkan sebaliknya. Habermas tidak mencurigai teknologi dan ilmu pengetahuan modern. Justru Habermas menganggap teknologi dan ilmu pengetahuan sebagai “aktor produktif terpenting”.
Dalam pandangan Karl Marx, komunikasi antara manusia harus dipahami menurut model pekerjaan atau hubungan produksi, oleh karenanya Habermas berhasil menyumbangkan salah satu kritik fundamental pada pemikiran Karl Marx sekaligus keluar dari lingkaran pesimisme teori kritis masyarakat klasik. Sebab dalam pandangan Habermas setiap komunikasi menuntut kebebasan, maka di dalam kepentingan akan keberhasilan komunikasi ada kepentingan yang lebih fundamental lagi yaitu kepentingan-kepentingan dasar manusia akan emansipasi menyatakan diri. Oleh karena itu pendekatan monokausal sebagaimana diyakini oleh Karl Marx bahwa masyarakat yang sungguh-sungguh manusia adalah dapat dihasilkan dengan mengubah hubungan produksi menjadi gugur dan tidak dapat dipertahankan lagi. Begitu pula kekuasaan ideologis prinsip tukar atas masyarakat industri kapitalis tua yang membuat Horkheimer dan Adorno begitu pesimistik menjadi terkuak totalitasnya. Dengan demikian, pemikiran Habermas menjadi begitu multi dimensional, meskipun pendekatannya kritis dan materialistik, dan sekalipun ia masih berbicara tentang materialisme historis, akan tetapi dalam kenyataannya ia telah meninggalkan kubu pemikiran marxisme.

C.    KARYA-KARYA PENTING JURGEN HABERMAS
•    The Structural Transformation of the Public Sphere: an Inquiry into a Category of Bourgeois Society (1962) diterjemahkan oleh Thomas Burger bersama dengan Frederick Lawrence, Cambridge, Polity Press, 1989
•    Theorie und Praxis / Theory and Practice (1963), diterjemahkan oleh John Viertel, Boston, Beacon Press, 1973
•    Erkenntnis und Interesse / Knowledge and Human Interest, (1968), diterjemahkan oleh Jeremy J. Shapiro, Boston, Beacon Press, 1971
•    Toward a Rational Society: Student Protest, Science and Politics (1968-9), diterjemahkan oleh Jeremy J. Shapiro, Boston, Beacon Press, 1970
•    On the Logic of the Social Sciences (1970), diterjemahkan oleh Shierry W. Nicholsen dan Jerry Stark, Cambridge,Mass, MIT Press, 1988
•    Legitimation Crisis (1973), diterjemahkan oleh Thomas McCarthy, Boston, Beacon Press, 1975
•    Communication and thr Evolution of Society (1976), diterjemahkan oleh Thomas McCarthy, London, Heinemann, 1979
•    Theorie des Kommunikativen Handelns /The Theory of Communication Action. Volume 1 Reason and Rationalization on Society (1981), diterjemahkan oleh Thomas McCarthy, Boston, Beacon Press, 1984
•    Theorie des Kommunikativen Handelns / The Theory of Communication Action. Volume 2 Lifeworld and System: a Ctitique of Functionalist Reason (1981), diterjemahkan oleh Thomas McCarthy, B: aoston, Beacon Press, 1987
•    Der Philosophische Diskurs der Moderne / The Philosophical Discourse of Modernity (1985), diterjemahkan oleh Frederick Lawrence, Cambridge, Polite Press, 1987
BAB 3
PENUTUP

KESIMPULAN:
Jurgen Habermas adalah seorang filsuf dan sosiolog dari Jerman yang dilahirkan pada tanggal 18 Juni 1929 di kota Dusseldorf, Jerman. Dewasa ini pemikirannya begitu berpengaruh terhadap dunia filsafat maupun ilmu-ilmu sosial lainnya, yakni pemikirannya tentang filsafat kritis. Pemikiran Jurgen Habermas tentang filsafat kritis ini sendiri dipengaruhi oleh Mazhab Frankfurt yang terkenal dengan dengan Teori Kritis-nya. Namun, di sini Habermas tidak hanya berperan sebagai penerus dari Mazhab Frankfurt dan Teori Kritis, tetapi Habermas merupakan pembaharu atas kelemahan teori ini. Dalam pembaharuannya, Habermas menambahkan konsep komunikasi ke dalam Teori Kritis. Titik tolak pemikiran Jurgen Habermas tentang Teori Kritis adalah paham dari para pendahulunya, yakni Max Horkheimer dan Theodor Adorno yang merupakan pengikut dari Mazhab Frankfurt tentang Teori Kritis.
Kemudian, Habermas berbicara tentang salah paham positivistik Marx terhadap teorinya sendiri. Menurut Habermas, Marx merosot menjadi seorang positivis sosial karena ia mereduksikan manusia pada satu macam tindakan saja, yakni pada pekerjaan. Di sini berarti Marx memahami komunikasi dalam kerangka pekerjaan, dan menurut Habermas hal itulah yang menyebabkan teori Marx gagal sebagai teori emansipatif. Namun, dalam kasus ini bukan hanya Marx yang mereduksikan manusia pada pekerjaan, melainkan seluruh teori kritis masyarakat mengikuti Marx dalam penyempitan perspektif itu.
Bagi Habermas, kritik terhadap postulat kebebasan nilai ilmu pengetahuan bukan sekedar masalah teori ilmu pengetahuan, melainkan ia mau membuka kedok suatu ideologi yang kekuasaannya menghalang-halangi emansipasi manusia. Konsep ilmu pengetahuan dan kepentingan adalah konsep utama yang dikemukakan Habermas dalam melakukan kritik terhadap paradigma positivisme, akibat klaim teori positivisme yang menganggap bahwa ilmu pengetahuan adalah bebas nilai, seperti halnya yang terjadi pada ilmu-ilmu alam.
Pemikiran Habermas menjadi begitu multi dimensional, meskipun pendekatannya kritis dan materialistik, dan sekalipun ia masih berbicara tentang materialisme historis.



DAFTAR PUSTAKA

Magnis Suseno, Franz, Filsafat sebagai Ilmu Kritis, 1995, Yogyakarta: Penerbit Kanisius
Mutasyir, Rizal dan Misnal Munir, Filsafat Ilmu, 2004, Yogyakarta: Pustaka Pelajar
Mudhofir, Ali, Kamus Filsuf Barat, 2001, Yogyakarta: Pustaka Pelajar
Fifty Modern Thinkers, Fifty Modern Thinkers on Education: From Piaget to the Present, 2001, London and New York: Routledge
http://id.wikipedia.org/wiki/J%C3%BCrgen_Habermas
http://valahulalam.blog.walisongo.ac.id/2013/12/07/pemikiran-filsafat-teori-kritis-jurgen-habermas/

TUGAS MAKALAH MATA KULIAH SEJARAH KEBUDAYAAN ISLAM DAN BUDAYA LOKAL “ISLAM PADA ABAD PERTENGAHAN”

DAFTAR ISI

Kata Pengantar      2
Daftar Isi      3
BAB 1 (PENDAHULUAN)      4
A.    Latar Belakang      4
B.    Rumusan Masalah      4
C.    Tujuan Penyusunan      4
D.    Manfaat Penyusunan      4

BAB 2 (PEMBAHASAN)      5

A.    Dunia Islam pada Abad Pertengahan      5

1.    Fase Kemunduran (1250-1500 M)      5

a.    Dinasti Jengiskhan      5
b.    Dinasti Timur Lenk      6
c.    Kaum Mamluk di Mesir      6
d.    Spanyol      7

2.    Fase Tiga Kerajaan Besar (1500-1800 M)      7

a.    Kerajaan Turki Usmani      7
b.    Kerajaan Safawi      8
c.    Keajaan Mughal      9

B.    Bekembangnya Politik, Sosial Ekonomi,
Kebudayaan, serta Pendidikan
Islam pada Abad Pertengahan      10

1.    Bidang Politik      10
2.    Bidang Sosial Ekonomi      10
3.    Bidang Kebudayaan      10
4.    Bidang Pendidikan      11

C.    Hikmah dari Perkembangan Islam pada Abad Pertengahan      11

BAB 3 (KESIMPULAN)      12

Daftar Pustaka      13

BAB 1
PENDAHULUAN

A.    LATAR BELAKANG
Secara umum, periode perkembangan Islam dibagi menjadi tiga. Pertama yakni periode klasik atau yang lebih sering disebut dengan zaman kemajuan. Periode ini dibagi menjadi dua fase, yaitu fase ekspansi, intregasi, dan puncak kemajuan (650-1000 M) dan juga fase disintregasi (1000-1250 M). Kedua, yakni periode pertengahan atau yang sering dikenal dengan zaman kemunduran. Periode ini pun juga dibagi menjadi dua fase, yaitu fase kemunduran (1250-1500 M) serta fase tiga kerajaan besar (1500-1800 M ). Dan yang terakhir adalah periode modern (1800-sekarang) yang disebut-sebut sebagai periode kebangkitan dari umat Islam.
Di sini, akan dibahas secara lebih rinci mengenai perkembangan Islam pada periode pertengahan atau zaman kemunduran. Agar kita bisa menelaah lebih dalam tentang sebab-sebab kemunduran umat Islam yang pada awalnya sempat mencapai puncak kejayaan. Dan nantinya tidak akan melakukan kesalahan yang sama seperti sebelumnya, sehingga kita sebagai umat Islam benar-benar bisa membangkitkan dan bahkan membawa Islam menuju puncak kejayaannya kembali.

B.    RUMUSAN MASALAH
1.    Bagaimana dunia Islam pada abad pertengahan?
2.    Bagaimana perkembangan politik, sosial ekonomi, kebudayaan, serta pendidikan Islam pada abad pertengahan?
3.    Apa hikmah dari sejarah perkembangan Islam pada abad pertengahan?

C.    TUJUAN PENYUSUNAN
1.    Memenuhi tugas pembuatan makalah pada mata kuliah SKI dan Budaya Lokal
2.    Menambah wawasan tentang dunia Islam pada abad pertengahan

D.    MANFAAT PENYUSUNAN
1.    Mengetahui gambaran dunia Islam pada abad pertengahan
2.    Mengetahui perkembangan politik, sosial ekonomi, kebudayaan, serta pendidikan Islam pada abad pertengahan
3.    Dapat mengambil hikmah dari sejarah perkembangan Islam pada abad pertengahan




BAB 2
PEMBAHASAN
A.    DUNIA ISLAM PADA ABAD PERTENGAHAN
1.    Fase Kemunduran (1250-1500 M)
a.    Dinasti Jengiskhan
Pada masa ini dunia Islam mengalami proses penghancuran oleh bangsa Mongol yang berasal dari pegunungan Mongolia dengan pemimpinnya yakni Jengiskhan yang menganut agama syamaniah atau penyembah binatang dan juga matahari terbit. Dinasti Jengiskhan sering disebut dengan dinasti Ilkhan, yakni suatu penghargaan atau gelar yang diberikan kepada Hulagukhan yang merupakan salah seorang keturunan dari Jengiskhan yang juga menganut agama syamaniah.
Kedatangan Dinasti Jengiskhan di dunia Islam diawali dengan menakhlukan wilayah-wilayah kerajaan Transoxania dan Khawarizm pada tahun 1219 M, Kerajaan Ghazna pada tahun 1221 M, Azarbaizan pada tahun 1223 M, dan Saljuk di Asia kecil pada tahun 1243 M. Setelah itu adanya serangan yang dilakukan di Baghdad oleh Hulagukhan pada tahun 1258 M hingga berujung pada pengepungan dan penghancuran benteng-benteng yang ada di kota ini dikarenakan Khalifah Al Mu’tasim tidak mau menyerah.
Akhirnya, Kota Baghdad dihancurkan dengan sebelumnya Khalifah dan keluarganya serta sebagian besar dari penduduk dibunuh dengan dipancung secara bergiliran. Setelah itu, pasukan Mongolia menyeberangi sungai Eufrat menuju Syria, kemudian melintasi Sinai. Pada tahun 1260 M mereka berhasil menduduki Nablus dan Gaza. Begitu pula daerah-daerah lain yang dilaluinya dapat ditaklukkan kecuali Mesir.
Demikianlah kondisi dunia Arab, terutama Baghdad dan sebagian besar daerah-daerah kerajan Islam lainnya, dikuasi oleh bangsa Mongolia selama kurang lebih 85 tahun di bawah perintah dinasti Ilkhan, yang tentunya banyak membawa kehancuran dan kemunduran di dunia Islam.
Namun dari sekian banyak penguasa dinasti Ilkhan, ada juga yang peduli terhadap pembangunan kembali peradaban yang telah diahancurkannya, antara lain Mahmud Ghazan, yakni raja Ilkhan pertama yang beragama Islam. Lalu, Mahmud Ghazan diganti oleh Muhammad Khudabanda Uljeitu, seorang penganut syi’ah yang ekstrim yang mendirikan kota raja Sulthaniyah dekat Zanja. Setelah itu diganti lagi, yakni oleh Abu Sa’id, pada masa ini terjadi bencana kelaparan yang sangat menyedihkan dan angin topan dengan hujan es yang mendatangkan malapetaka. Sepeninggal Abu Sa’id, Kerajaan Ilkhan menjadi terpecah belah. Masing-masing pecahan saling memerangi dan akhirnya mereka ditakhlukkan oleh Timur Lenk.

b.    Dinasti Timur Lenk
Dinasti Timur Lenk jauh lebih kejam apabila dibandingkan dengan Dinasti Jengiskhan, meskipun dinasti ini telah menganut agama Islam. Pada tanggal 10 April 1370 M Timur Lenk memproklamirkan diri sebagai penguasa tunggal di Tranxosiana dan berencana untuk menaklukkan daerah-daerah yang pernah dikuasai oleh Jengiskhan. Di setiap negeri yang ditaklukkannya ia mengadakan pembantaian besar-besaran terhadap siapa saja yang menghalangi rencananya, misalnya di Afganistan ia membangun menara yang disusun dari 2000 mayat yang dibalut dengan batu dan tanah liat.
Setelah berhasil mengusai beberapa daerah seperti Hamah, Hom’s, Ba’labaka serta Damaskus, Timur lenk berambisi untuk menguasai kerajaan Usmani di Turki, karena kerajaan ini banyak menguasai daerah-daerah bekas imperium Jengiskan dan Hulagukhan. Dan pada tahun 1402 M terjadi pertempuran yang sangat hebat di Ankara. Tentara Usmani mengalami kekalahan dan Sultan Usmani (Bayazid I) sendiri tertawan dan mati dalam tawanan.
Setelah itu Timur Lenk kembali ke Samarkhand. Ia berencana mengadakan invasi ke Cina, namun di tengah perjalanan ia sakit dan akhirnya meninggal di usia 71 tahun, tepatnya pada tahun 1404 M dan mayatnya dibawa ke Samarkhand.
Sekalipun Timur Lenk ini terkenal sangat ganas dan kejam, tetapi ia sempat memperhatikan perkembangan Islam. Konon ia penganut Syi’ah yang ta’at dan menyukai tarekat Naqsyabandiyah, selalu mengikutsertakan para ulama, sastrawan dan seniman dalam setiap perjalanannya, dan sangat menghormati para ulama.

c.    Kaum Mamluk di Mesir
Satu-satunya penguasa Islam yang dapat memukul mundur tentara Mongolia (Hulagukhan) ialah tentara Mamalik yang saat itu sedang berkuasa di Mesir dibawah pimpinan Sulthan Baybars sebagai Sulthan yang terbesar dan termasyhur serta dipandang sebagai pembangun hakiki dinasti Mamalik di Mesir. Dinasti Mamalik berkuasa sejak tahun 1250 M menggantikan dinasti Al Ayyubi dan berakhir tahun 1517 M. Karena dapat menghalau tentara Hulagukhan, Mesir terhindar dari penghancuran, sebagaimana dialami di dunia Islam lain yang ditaklukkan oleh Hulagu.
Dinasti Mamalik ini mengalami kemajuan diberbagai bidang. Dalam bidang ekonomi, ia membuka hubungan dagang dengan Perancis dan Italia, terutama setelah kejatuhan Baghdad oleh tentara Timur Lenk, membuat Kairo menjadi kota yang sangat penting yang menghubungkan jalur perdagangan antara Laut merah dan laut tengah dengan Eropa. Di bidang ilmu pengetahuan, Mesir menjadi tempat pelarian ilmuwan-ilmuwan asal Baghdad dari serangan tentara Mongolia. Karena itu ilmu-ilmu banyak berkembang di Mesir, seperti sejarah, kedokteran,astronomi,matematika, dan ilmu agama. Demikain pula dalam bidang arsitektur, mereka membangun bangunan-bangunan yang megah seperti sekolah-sekolah, masjid-masjid, rumah sakit, museum, perpustakaan, villa-villa, kubah dan menara masjid.
Kerajaan Mamalik ini berakhir tahun 1517 disebabkan banyaknya panguasa yang bermoral rendah, suka berfoya-foya dan ditambah dengan datangnya musim kemarau panjang dan berjangkitnya wabah penyakit. Dilain pihak munculnya kekuatan baru, yaitu kerajaan Turki Usmani yang kemudia dapat memenangkan perang melawan tentara Mamalik. Kemudian Mesir ini dijadikan salah satu propinsi kerajaan Usmani di Turki.

d.    Spayol
Pada abad pertengahan ini Islam hanya berkuasa di daerah Granada, di bawah dinasti Bani Ahmar yang merupakan kekuatan Islam terakhir di Spanyol seteleh kurang lebih tujuh setengah abad lamanya menguasai wilayah ini. Kota-kota lain seperti Cordova telah jatuh ke tangan Kristen pada tahun 1238 M, Sevilla lepas pada tahun 1248 M dan akhirnya Granada juga jatuh ke tangan Kristen pada tahun 1492 M. Hal ini disebabkan karena terjadinya perpecahan diantara umat Islam terutama orang-orang istana dalam memperebutkan kekuasaan. Di lain pihak umat Kristen berhasil mempersatukan diri.
Abu Abdullah sebagai khalifah terakhir tidak mampu lagi membendung serangan-serangan Kristen yang dipimpin oleh Ferdinand dan Isabella, dan akhirnya dia menyerahkan diri dan hijrah ke Afrika utara. Dengan demikian berakhirlah kekuasaan Islam di Spanyol. Umat Islam setelah itu, dihadapkan kepada dua pilihan, masuk Kristen atau pergi meninggalkan Spanyol. Pada tahun 1609 M boleh dikatakan tidak ada lagi umat Islam di daerah ini.

2.    Fase Tiga Kerajaan Besar (1500-1800 M)

a.    Kerajaan Turki Usmani
Kerajaan Usmani didirikan oleh Umsan I yang menyatakan diri sebagai Padisyah al-Usmani (raja besar keluarga Usmani) pada tahun 699 H (1300 M). Pada tahun 1312 M Usman menyerang Kota Broessa di Bizantium yang kemudian dijadikan sebagai ibu kota kerajaannya. Beberapa tahun kemudian, Usman dapat menaklukkan sebagian benua Eropa dan pada masa Sultan Murad I, Usmani dapat menguasai Adrianopel yang kemudian dijadikan ibu kotanya yang baru. Setelah itu ditaklukkan pula Macedonia, Sopia, Salonia, dan seluruh wilayah utara Yunani.
Merasa cemas terhadap kemajuan ekspansi kerajaan ini ke Eropa, Paus mengobarkan semangat perang untuk memkul mundur pasukan Usmani. Setelah mengalami pasang surut dengan disertai perjuangan yang besar akhirnya Kerajaan Usmani terselamatkan dan semakin memantapkan kedudukannya pada masa Sulaiman al-Qanuni.
Dalam pembangunan, Turki Usmani lebih memfokuskan pada bidang politik, kemiliteran, dan arsitektur. Pada bidang politik, Kerajaan Usmani melakukan perluasan daerah. Pada bidang militer, Kerajaaan Usmani membentuk kelompok militer baru yang disebut pasukan Jenissari atau Inkisyariah. Dan pada bidang arsitek, Dinasti Usmani membangun banyak bangunan megah seperti sekolah, rumah sakit, villa, makam, jembatan, dan masjid.
Setelah Sulaiman al-Qanuni wafat, Kerajaan Usmani mengalami masa kemunduran yang disebabkan oleh beberapa faktor, yakni:
•    Wilayah kekuasaaan yang sangat luas
•    Heterogenitas penduduk
•    Kelemahan para penguasa
•    Budaya suap dan pungli
•    Pemberontakan tentara Jenissar
•    Merosotnya ekonomi
•    Terjadinya stagnasi dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi

b.    Kerajaan Safawi
Kerajaan Safawi didirikan oleh Syah Ismail Syafawi (Ismail I) pada tahun 907 H (1501 M) di Tabriz dengan wilayah kekuasannya yakni di sebelah barat berbatasan dengan Kerajaan Ottoman di Turki dan di sebelah timur berbatasan dengan Kerajaan Islam Mogul di India. Kerajaan Syafawi berasal dari sebuah gerakan tarikat yang berdiri di Ardabil, sebuah kota di Azerbaijan dengan nama Tarikat Safawiyah yang diambil dari nama pendirinya, yakni Safiuddin.
Menurut ahli sejarah, tarikat Safawiyah mempunyai dua fase dalam perkembangannya. Fase pertama tarikat ini mempunyai dua corak, yakni corak Suni dan corak Syiah. Fase kedua terikat Safawiyah berubah menjadi gerakan politik pada masa pimpinan Junaid bin Ibrahim yang membentuk pemerintahan sendiri.
Kegiatan polotok Safawiyah mendapat tekanan dari Dinasti Kara Koyunlu sehingga memaksa Junaid meninggalkan Ardabil dan meminta perlindungan politik kepada Raja Ak Koyunlu, Uzun Hasan. Perjuangan tarkat Safawiyah beru berhasil pada masa pimpinan Ismail Safawi. Ismail dan para pengikutnya menghimpun kekuatan besar di Jihan untuk menaklukkan Ak Koyunlu yang telah berhasil mengalahkan Kara Koyunlu ketka bersekutu dengan kakeknya, Junaid. Akan tetapi, persekutuan itu pecah akibat persaingan politik. Ayahnya, Haidar mati terbunuh dalam suatu pertempuran di Syirwan.
Ismail dengan pasukan Qizilbash berhasil menaklukkan Syirwan dan menuju wilayah Ak Koyunlu. Pada tahun itu juga Ismail mendirikan Kerajaan Syafawi dan memproklamirkan dirinya sebagai raja pertama. Para pengikutnya menganggap Ismail selain raja juga sebagai pimpinan ruhani. Ismail sendiri menganggap dirinya sebagai manifestasi Tuhan.
Kerajaan Syafawi mencapai puncak kejayaan pada masa Syah Abbas, dan setelah Raja Syah Abbas wafat kerajaan ini menglami kemunduran yang disebabkan oleh beberapa faktor, yakni:
•    Kerajaan dipimpin oleh raja-raja yang lemah
•    Konflik berkepanjangan dengan Kerajaan Turki Usmani
•    Dekadensi moral yang terjadi pada para penguasa Kerajaan Syafawi
•    Konflik internal dalam merebutkan kekuasaan

c.    Kerajaan Mughal
Kerajaan Mughal di India dengan ibukota Delhi, didirikan oleh Zahiruddin Muhammad Babur, putera dari Umar Mirza, penguasa Farghana (Asia Tengah) dan merupakan salah satu cucu Timur Lenk. Babur meninggal setelah memimpin Kerajaan Mughal selama 30 tahun, yakni dalam usia 48 tahun. Setelah itu, estafet kepemimpinan Kerjaan Mughal jatuh pada putera mahkota yang bernama Humayun.
Dalam melaksanakan pemerintahan, Humayun banyak menghadapi tantangan. Salah satunya pada tahun 1540 M, terjadi pertempuran dengan Sher Khan di Kanauj. Dalam pertempuran ini Humayun mengalami kekalahan yang memaksanya melarikan diri ke Kadahar lalu ke Persia. Di Persia inilah ia menyusun kembali kekuatan militernya dengan dibantu oleh Raja Persia, Tahmasp. Setelah 15 tahun akhirnya Sher Khan Shah dapat dikalahkan. Lalu Humayun kembali ke India pada tahun 1555 M dan setahun kemudian ia meninggal karena terjatuh dari tangga perpustakaannya.
Tampuk kekuasaan berpindah ke tangan anaknya, yakni Akbar yang masih berusia 14 tahun. Karena usianya terlalu muda, maka urusan kerajaan diserahkan kepada Bairam Khan. Pada masa Akbar inilah Kerajaan Mughal mencapai puncak kejayaan. Akbar mampu mengatasi persoalan-persoalan di dalam negeri, yakni pemberontakan yang dilakukan oleh Biram Khan, kemudian mengadakan ekspansi ke  berbagai wilayah dan memimpin wilayah tersebut secara militeristik.
Setelah Raja Akbar wafat, ia digantikan oleh puteranya, Sultan Salim yang digelari Jahanggir. Dan setelah Jahanggir wafat, kerajaan diperebutkan oleh dua puteranya, yakni Syah Jahan dan Asaf Khan yang kemudian dimenangkan oleh Syah Jahan. Syah Jahan digelari Abul Mujaffar Sahabuddin Muhammad Sahib Qiran Sani Syah Jahan Padsah Gazi. Pada waku menjadi raja, Syah Jahan menikah dengan Mumtaz Mahal. Dan di antara peninggalan pemerintahan Syah Jahan yang terkenal adalah Taj Mahal, bangunan yang dipersembahkan bagi permaisurinya yang telah meninggal.
Ada beberapa faktor yang menyebabkan kekuasaan Kerajaan Mughal mmundur dan akhirnya hancur, yakni:
•    Terjadi stagnasi dalam pembinaaan kekuatan militer
•    Kemrosotan moral dan hidup mewah di kalangan elite politik
•    Pendekatan Aurangzeb terlampau kasar
•    Pewaris kerajaan paro terakhir adalah orang-orang yang lemah dalam bidang kepemimpinan
B.    PERKEMBANGAN POLITIK, SOSIAL EKONOMI, KEBUDAYAAN, SERTA PENDIDIKAN ISLAM PADA ABAD PERTENGAHAN

1.    Bidang Politik
Terjadi balance of power karena di bagian barat terjadi permusuhan antara bani Umayyah II di Andalusia dengan kekaisaran karoling di Perancis, sedangkan di bagian timur terjadi perseteruan antara bani Abbasyah dengan kekaisaran Byzantium timur di semenanjung Balkan. Bani Abbasyah juga bermusuhan dengan Bani Umayyah II dalam perebutan kekuasaan pada tahun 750 M. Kekaisaran Karoling bermusuhan dengan kekaisaran Byzanium timur dalam memperebutkan Italia. Oleh karena itu terjadilah persekutuan antara Bani Abbasyah dengan kekaisaran Karoling, sedangkan bani Umayyah II bersekutu dengan Byzantium Timur. Persekutuan baru berakhir setelah terjadi perang salib.

2.    Bidang Sosial Ekonomi
Islam telah menguasai Andalusia pada tahun 711 M dan Konstantinopel pada tahun 1453 M. Keadaan ini mempunyai pengaruh besar terhadap pertumbuhan Eropa. Islam berarti telah menguasai daerah timur tengah yang ketika itu menjadi jalur dagan dari Asia ke Eropa. Saat itu perdagangan ditentukan oleh negara-negara Islam. Hal ini menyebabkan mereka menemukan Asia dan Amerika.

3.    Bidang Kebudayaan
Melalui bangsa Arab (Islam), Eropa dapat memahami ilmu pengetahuan kuno seperti dari Yunani dan Babilonia. Tokoh tokoh yang mempengaruhi ilmu pengetahuan dan kebudayaan saat itu antara lain sebagai berikut.

a.    Al Farabi (780-863 M)
Al Farabi mendapat gelar guru kedua (Aristoteles digelari guru pertama). Al Farabi mengarang buku, mengumpulkan dan menerjemahkan buku-buku karya aristoteles.

b.     Ibnu Rusyd (1120-1198 M)
Ibnu Rusyd memiliki pengaruh yang sangat besar di Eropa sehingga menimbulkan gerakan Averoisme (di Eropa Ibnu Rusyd dipanggil Averoes) yang menuntut kebebasan berfikir. Berawal dari Averoisme inilah lahir roformasi pada abad ke-16 M dan rasionalisme pada abad ke-17 M di Eropa. Buku-buku karangan Ibnu Rusyd kini hanya ada salinannya dalam bahasa latin dan banyak dijumpai di perpustakaan-perpustakaan Eropa dan Amerika. Karya beliau dikenal dengan Bidayatul Mujtahid dan Tahafutut Tahaful.

c.     Ibnu Sina (980-1060 M)
Di Eropa, Ibnu Sina dikenal dengan nama Avicena. Beliau adalah seorang dokter di kota Hamazan, Persia. Beliau juga seorang penulis buku-buku kedokteran dan peneliti berbagai penyakit, serta seorang filsuf yang terkenal dengan idenya mengenai paham serba wujud atau wahdatul wujud. Ibnu Sina juga merupakan ahli fisika dan ilmu jiwa. Karyanya yang terkenal dan penting dalam dunia kedokteran yaitu Al Qanun fi At Tibb yang menjadi suatu rujukan ilmu kedokteran.

4.    Bidang Pendidikan
Banyak pemuda Eropa yang belajar di universitas-unniversitas Islam di Spanyol seprti Cordoba, Sevilla, Malaca, Granada dan Salamanca. Selama belajar di universitas-universitas tersebut, mereka aktif menterjemahkan buku-buku karya ilmuwan muslim. Pusat penerjemahan itu adalah Toledo. Setelah mereka pulang ke negerinya, mereka mendirikan sekolah dan universitas yang sama. Universitas yang pertama kali berada di Eropa ialah Universitas Paris yang didirikan pada tahun 1213 M dan pada akhir zaman pertengahan di Eropa baru berdiri 18 universitas. Pada universitas tersebut diajarkan ilmu-ilmu yang mereka peroleh dari universitas Islam seperti ilmu kedokteran, ilmu pasti dan ilmu filsafat.

C.    HIKMAH DARI SEJARAH PERKEMBANGAN ISLAM PADA ABAD PERTENGAHAN

1.    Semangat memperluas wilayah kekuasaan Islam. Semangat yang ditunjukkan oleh ketiga kerajaan ini terbukti dengan meluasnya daerah kekuasaan Islam pada waktu itu.
2.    Sikap toleransi yang kuat. Pada kerajaan Turki Usmani, sikap toleransi ini dicontohkan pada masa Sultan Muhammad al-Fatih. Pada saat memimpin, ia menciptakan suasana yang toleran, negara yang aman dan damai. Kerukunan umat beragama antara Islam dan Kristen dapat terwujud walaupun berada dalam satu atap negara.
3.    Membebaskan masyarakat yang tertindas atau lemah. Penaklukkan wilayah yang demikian luas dilakukan oleh kaum muslim saat itu berdasarkan pada permintaan penduduk suatu negara yang ditindas oleh pemimpin mereka sendiri. Hal tersebut dikarenakan penduduknya berada di bawah pemerintah yang zalim atau karena kerajaan tersebut telah mengaggu wilayah-wilayah Islam.
4.    Pengembangan seni arsitektur Islam. Pada periode pertengahan, seni arsitektur Islam begitu dikenal oleh masyarakat dunia, terbukti denga banyaknya peninggalan-peninggalan yang dapat dinikmati hingga saat ini. Contoh peninggalan dengan gaya arsitektur Islam yang kemudian menjadi salah satu keajaiban dunia adalah Taj Mahal.
5.    Pengembangan ilmu pegetahuan. Islam memiliki kontribusi yang sangat besar dalam upaya menyebarkan ilmu pengetahua dan teknologi. Eropa memiliki kemajuan saat ini salah satunya disebabkan jasa sarjana-sarjana muslim yang telah menjadi mata rantai perkembangan ilmu pengetahuan kepada masyarakat Eropa.
6.    Ikhlas berjuang di jalan Allah. Niat yang tulus dan ikhlas ketika melakukan sesuatu karena Allah sangat dibutuhkan. Ketika niat telah berubah menjadi orientasi terhadap kekuasaan atau harta, maka dengan cepat kehancuran akan menimpa.





BAB 3
KESIMPULAN

Perkembangan Islam di dunia, tepatnya pada abad pertengahan dibagi menjadi dua fase, yakni fase kemunduran yang terjadi dari tahun 1250 M sampai 1500 M dan fase tiga kerajaan besar yang terjadi dari tahun 1500 M sampai 1800 M. Fase pertama, yakni fase kemunduran didominasi dengan pemberontakan-pemberontakan yang dilakukan oleh dinasti Jengiskhan dan dinasti Timur Lenk. Sedangkan pada fase kedua, tiga kerajaan besar yang dimaksud adalah Kerajaan Turki Usmani, Kerajaan Safawi, dan Kerajaan Mughal. Ketiga kerajaan tersebut pernah mencapai puncak kejayaannya masing-masing dan juga meninggalkan bukti keberadaan baik berupa tata cara yang dulu mereka lakukan atau mereka terapkan maupun berupa bangunan-bangunan yang sampai saat ini masih dapat kita lihat. Namun seiring berkembangnya zaman, ketiga kerajaan besar ini pun hancur dikarenakan beberapa faktor.
Meski demikian, kita sebagai umat muslim harus berbangga karena pada abad pertengahan ilmuwan-ilmuwan muslim membawa banyak perubahan ke arah positif, salah satunya dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi. Penemuan-penemuan mereka masih digunakan dan tetap menjadi bahan pertimbangan dalam setiap penelitian sampai saat ini. Dan tugas kita untuk mengembangkan apa yang telah mereka wariskan, bukan malah menunggu umat dari agama lain yang mengembangkan ilmu-ilmu yang telah ada sekarang.
 
Template designed by Liza Burhan